Sudutpenanews.com | Meulaboh – Kabupaten Aceh Barat ternyata menyimpan sejarah panjang dan potensi besar sebagai daerah penghasil kopi. Temuan terbaru Tim Universitas Teuku Umar (UTU) saat melakukan observasi lapangan di Desa Peunaga Cut Ujong dan Ujong Tanoh Darat menunjukkan adanya jejak sistem budidaya kopi yang telah lama berkembang di wilayah tersebut.
Tim menemukan bahwa pada masa lalu masyarakat menerapkan pola tanam tumpang sari antara tanaman karet dan kopi. Hal ini terlihat dari keberadaan pohon-pohon karet dengan jarak tanam yang relatif lebar, sementara di sela-selanya tumbuh tanaman kopi yang hingga kini masih dapat ditemukan. Menariknya, kopi yang ditemukan bukan hanya varietas robusta, tetapi juga varietas liberika yang selama ini belum banyak mendapat perhatian.
Temuan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa Aceh Barat memiliki hubungan historis yang erat dengan komoditas kopi. Salah satu bukti yang sering dikutip masyarakat adalah ungkapan legendaris Teuku Umar, “Beungoh Singoh Geutanyoue Jep Kupi di Keude Meulaboh Atawa Ulon Akan Syahid (Besok Pagi Kita Akan Minum Kopi di Kota Meulaboh atau Aku Akan Gugur).” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kopi telah menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat Aceh Barat sejak masa perjuangan Teuku Umar.
Berdasarkan nilai sejarah tersebut, Aceh Barat dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan identitas sebagai daerah penghasil oleh-oleh kopi khas pesisir barat Aceh. Potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari komoditas kopi sangat besar, mulai dari usaha tani, pengolahan, pemasaran hingga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Potensi tersebut semakin menarik karena selain robusta, Aceh Barat juga memiliki kopi liberika. Dalam beberapa tahun terakhir, kopi liberika mulai mendapat perhatian dunia kopi internasional karena karakter rasa yang unik dan berbeda dibandingkan arabika maupun robusta. Popularitas liberika semakin meningkat setelah digunakan dalam ajang kompetisi barista internasional (CNBC 2026) yang berhasil menarik perhatian pecinta kopi dunia.

Melihat peluang tersebut, Tim Universitas Teuku Umar berkolaborasi dengan Akademi Komunitas Negeri Aceh Barat dan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Aceh Barat melalui Program Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK) skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) Tahun 2026. Program ini mengusung tema “Implementasi Model UMKM Hijau dan Teknologi Pascapanen untuk Peningkatan Nilai Tambah Produk Kopi di Kabupaten Aceh Barat.” Program tersebut menyasar dua pelaku usaha kopi lokal, yaitu Apon Kupi Aceh dan UD Bubuk Kopi H. Amrin, yang selama ini menjadi bagian penting dalam rantai nilai pengolahan kopi di Aceh Barat.
Ketua Tim PM-UPUD, Dedy Darmansyah, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa saat ini banyak tanaman kopi robusta dan liberika di Aceh Barat yang tumbuh tetapi kurang terawat karena belum tersedianya sistem penampungan dan pengolahan yang berkelanjutan.
“Kami melihat ada fenomena yang bertolak belakang. Di satu sisi warung kopi dan konsumsi kopi di Aceh Barat terus tumbuh, tetapi di sisi lain banyak tanaman kopi masyarakat yang tidak dimanfaatkan secara optimal karena belum ada pasar dan pengolahan yang mampu menyerap hasil produksi mereka,” ujarnya.
Sebagai solusi, tim pengabdian menghadirkan berbagai inovasi teknologi pascapanen untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk kopi. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pengembangan mesin roasting kapasitas besar yang dirancang langsung oleh dosen dan mahasiswa.
Jika sebelumnya kapasitas sangrai hanya sekitar 25 kilogram per proses, kini kapasitasnya ditingkatkan hingga 80–100 kilogram. Mesin tersebut dirancang khusus sesuai kebutuhan pelaku usaha di Aceh Barat yang kerap menghadapi pemadaman listrik.
Herdian Saputra ST., MT, Dosen AKN Aceh barat menyampaikan, “Mesin yang kami kembangkan dapat dioperasikan menggunakan motor listrik, tetapi tetap bisa dijalankan secara manual ketika terjadi pemadaman listrik. Ini merupakan solusi nyata yang lahir dari kondisi lapangan dan kebutuhan pelaku usaha,”.ujarnya.
Selain peningkatan kapasitas produksi, tim juga melakukan pendampingan perbaikan mutu produk mulai dari penerapan petik merah, sortasi defect, pengolahan yang lebih higienis, hingga pengembangan produk inovatif berupa kopi robusta fermentasi. Langkah tersebut diharapkan mampu menghasilkan cita rasa yang lebih konsisten dan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan kopi konvensional. Di sisi pemasaran, kedua mitra usaha akan memperoleh desain kemasan baru yang mengangkat identitas budaya Aceh Barat. Kemasan dirancang menggunakan motif khas daerah dan narasi sejarah Teuku Umar sehingga tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menghadirkan cerita dan kebanggaan daerah. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi kopi Aceh Barat sebagai produk oleh-oleh khas yang memiliki nilai budaya dan sejarah.
Program PM-UPUD juga menargetkan peningkatan kualitas produk, peningkatan kapasitas produksi, kenaikan harga jual, serta peningkatan omzet usaha mitra.
Melalui penerapan teknologi dan penguatan manajemen usaha, program ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem UMKM kopi yang berkelanjutan di Aceh Barat sekaligus mendukung agenda hilirisasi komoditas berbasis sumber daya lokal. Saat ini kegiatan telah memasuki tahap pengolahan dan penguatan kapasitas mitra.
Tim menargetkan peluncuran produk kopi khas Aceh Barat dengan wajah baru pada bulan Juli mendatang. Produk tersebut tidak hanya menawarkan kemasan yang lebih menarik, tetapi juga kualitas kopi yang lebih baik melalui penerapan standar produksi modern.
Apabila pengembangan ini berjalan sesuai rencana, Aceh Barat berpeluang besar untuk kembali dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi di Aceh, sekaligus melahirkan oleh-oleh khas berbasis kopi robusta dan liberika yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, pelaku UMKM, dan masyarakat secara luas.






