Aceh Barat | Sudutpenanews.com : Isu kelangkaan dan permainan harga tabung gas melon 3 kilogram seakan tak pernah menemukan ujung. Dalam unggahan akun TikTok resmi @sudutpenanews, puluhan warganet mengeluhkan nasib serupa, sulitnya mendapatkan gas melon, harga yang melambung tinggi, hingga dugaan permainan terselubung di tingkat pangkalan. Suara-suara yang muncul bukan sekedar keluhan, melainkan jeritan masyarakat kecil yang bergantung pada gas bersubsidi untuk sekadar memasak dan bertahan hidup.
Salah seorang warganet menuliskan, “Tempat saya tengah malam masuk, paginya udah nggak ada lagi… sebaiknya pangkalan harus ada yang pantau dan mobil pembawa gas jangan masuk malam.” Komentar ini menggambarkan betapa proses distribusi telah kehilangan transparansi. Masuknya truk gas di tengah malam menjadi ruang gelap bagi permainan harga dan penyaluran yang tak tepat sasaran.
Komentar lain bahkan lebih tegas, “Tolong di Desa Langung banyak pangkalan nakal. Gas masuk jam satu malam saat orang tidur, tidak ada papan informasi. Tolong ditindak, Pak Bupati.” Mirisnya, masyarakat merasa pemerintah daerah tidak cukup hadir dalam persoalan yang begitu krusial ini.
Keluhan yang paling menyayat datang dari pengguna lain, “Kalau mati lampu masih bisa kami tahan, tapi soal gas kosong kami bisa kelaparan, Pak.”Ini bukan lagi sekedar soal komoditas,ini soal hak dasar warga untuk hidup layak.
Di Ujung Kalak, warganet mengaku harga di pangkalan mencapai di atas Rp20 ribu, bahkan ada yang menjual terbatas hanya 25 tabung sementara sisanya “hilang”. Padahal pemerintah daerah telah mengeluarkan surat edaran untuk melarang penjualan di atas HET. Faktanya, edaran hanya jadi kertas tanpa nilai jika penegakan di lapangan nihil.
Lebih jauh, dugaan permainan distribusi juga mencuat dari Desa Panggong. Ada pangkalan yang hanya memberikan kepada orang dekat, bahkan ada yang beroperasi di lorong sempit untuk mengecer gas pada malam hari. Warga menyebut bahwa sebelum membuka usaha, penjual itu berjanji memberikan gas untuk warga sekitar, nyatanya janji hanya tinggal janji.
Semua fakta ini memperlihatkan satu hal, rantai distribusi gas melon sedang tidak sehat. Ketidakteraturan jam masuk, lemahnya pengawasan, pangkalan nakal, hingga HET yang tidak berlaku di lapangan adalah gejala dari sistem yang gagal.
Agar persoalan ini tidak terus menjadi drama tahunan, berikut langkah konkret yang wajib dilakukan Pemerintah Daerah Harus Menurunkan Tim Sidak Harian.
Tidak cukup hanya surat edaran. Harus ada inspeksi rutin, menyasar pangkalan-pangkalan yang diduga bermain harga dan sembunyi-sembunyi mendistribusikan gas pada malam hari. Sidak harus dilakukan secara acak dan terbuka hasilnya kepada publik.
Sedangkan Pertamina Wajib Membuat Sistem Transparansi Distribusi. Langkah ini penting untuk menutup ruang gelap permainan distribusi serta pangkalan Nakal Harus Dicabut Izinnya.Pencabutan izin adalah langkah paling efektif memberi efek jera.
Warga Dilibatkan dalam Sistem Pengawasan, Di era digital, masyarakat dapat menjadi pengawas distribusi gas melalui pelaporan langsung ke pemerintah daerah, hotline khusus dan kanal resmi Pertamina.
Distribusi tengah malam harus dilarang. Gas harus masuk pangkalan pada jam operasional normal, sehingga masyarakat dapat memantau dan memastikan tidak ada praktik manipulatif.
Persoalan gas melon bukan hanya soal kelangkaan sesaat, tetapi kegagalan tata kelola distribusi yang terus berulang. Suara warganet di TikTok adalah alarm keras bahwa masyarakat sudah sangat lelah. Pemerintah daerah, Pertamina, dan seluruh pemangku kepentingan harus berhenti saling melempar tanggung jawab. Saatnya bergerak dengan langkah nyata.
Karena bagi masyarakat kecil, tabung melon bukan sekedar tabung itu adalah penghubung antara dapur dan kehidupan.







