DLH Aceh Barat: Berbagai Faktor Perlu Dikaji Terkait Kondisi Krueng Tujoh

Sudutpenanews.com | Meulaboh — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Barat telah melakukan pemantauan kondisi Krueng Tujoh, Kecamatan Meureubo, sejak 4 Agustus 2026 bersama aliansi masyarakat dan kelompok yang peduli terhadap kondisi Krueng Tujoh.

Kadis DLH Aceh Barat, T. Ronal Nehdiansyah, mengatakan hasil pemantauan secara visual menunjukkan kondisi Krueng Tujoh cukup memprihatinkan. Namun, pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab terjadinya degradasi lahan maupun perubahan kondisi lingkungan di kawasan tersebut.

“Secara visual memang kita melihat kondisi Krueng Tujoh sedikit memprihatinkan. Namun, kita belum bisa menyimpulkan apa penyebab degradasi lahan di Krueng Tujoh, karena untuk memastikan itu kita masih perlu melakukan pemantauan dan pengujian secara laboratorium, khususnya terhadap kualitas air,” kata Ronal, Senin (23/8/2026).

Ia menjelaskan, dari hasil pengamatan di lapangan, ditemukan cukup banyak sampah di sekitar Krueng Tujoh. Namun, sampah tersebut didominasi material organik berupa ranting, daun, pohon maupun tanaman yang telah mati.

“Kalau sampah, memang secara visual cukup banyak ditemukan. Tetapi dominannya merupakan sampah organik, seperti dari pohon dan tanaman yang sudah mati di lokasi,” ujarnya.

Selain persoalan sampah, DLH juga mengamati adanya material yang menyebabkan pendangkalan pada alur sungai. Berdasarkan pengamatan sementara, sedimentasi berupa lumpur dinilai lebih dominan dibandingkan material lainnya.

“Untuk kedangkalan, memang secara visual kita melihat ada banyak material di lokasi sungai. Namun, sedimentasi lumpur lebih dominan dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan wilayah Krueng Tujoh menjadi lebih dangkal,” jelas Ronal.

Ronal menegaskan, DLH Aceh Barat tidak ingin terburu-buru menyimpulkan maupun memvonis pihak tertentu sebagai penyebab kondisi Krueng Tujoh. Menurutnya, terdapat berbagai aktivitas di sekitar kawasan tersebut yang perlu dikaji secara menyeluruh.

“Kita tidak bisa langsung memvonis perusahaan sebagai pihak yang menyebabkan kondisi negatif tersebut. Di sekitar Krueng Tujoh juga terdapat berbagai aktivitas masyarakat, termasuk perkebunan. Karena itu, semuanya perlu kita lihat dan kaji secara objektif,” katanya.

Menurut Ronal, persoalan tersebut saat ini sedang didiskusikan bersama berbagai pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di sekitar Krueng Tujoh. Hal itu juga menjadi bagian dari pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRK Aceh Barat bersama pihak terkait.

Dalam RDP tersebut, perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar Krueng Tujoh menyatakan kesediaannya untuk ikut berkontribusi dalam upaya pemulihan dan normalisasi sungai.

“Melalui RDP, perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar lokasi sudah sepakat untuk ikut andil dalam pemulihan dan normalisasi Krueng Tujoh,” ungkapnya.

Ia menambahkan, langkah selanjutnya perlu dilakukan melalui kajian dan pemantauan yang lebih komprehensif, sehingga setiap tindakan penanganan dapat dilakukan berdasarkan data dan kondisi faktual di lapangan.

DLH Aceh Barat, kata Ronal, akan terus berkoordinasi dengan masyarakat, perusahaan serta pihak terkait lainnya dalam mencari solusi terhadap kondisi Krueng Tujoh, termasuk upaya penanganan sampah, sedimentasi dan normalisasi sungai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *