Sudutpenanews.com | Aceh Barat — Kisah Akbar, pemuda 19 tahun asal Gampong Ujong Nga, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, mendapat perhatian publik setelah kondisi tempat tinggalnya yang memprihatinkan diberitakan media pada awal September 2026. Akbar diketahui selama bertahun-tahun tinggal dalam sebuah gubuk sederhana di samping rumah keluarganya karena kondisi perkembangan dan perilaku yang membuat ibunya kesulitan melakukan pengawasan.
Pemberitaan mengenai kondisi Akbar kemudian berkembang menjadi perhatian pemerintah daerah. Dalam waktu sekitar dua pekan, penanganan terhadapnya bergerak dari kunjungan tenaga kesehatan, turun langsungnya Bupati Aceh Barat Tarmizi, rencana pengobatan ke Banda Aceh, hingga pengantaran langsung ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh dan dimulainya persiapan pembangunan rumah layak huni untuk Akbar.
Kasus Akbar mencuat setelah kondisi tempat tinggalnya diberitakan sejumlah media pada awal September. Ia disebut tinggal di sebuah gubuk berdinding pelepah rumbia dan beratap daun rumbia yang berada di samping rumah keluarganya.
Ibunya, Suryanti, sebelumnya mengaku kesulitan mengawasi Akbar karena kondisi dan perilakunya. Keluarga kemudian menempatkan Akbar di gubuk tersebut karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ketika ia berada di dalam rumah.
Dinkes Turun Tangan
Dinas Kesehatan Aceh Barat mendatangi kediaman Akbar pada 5 September 2026. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat Evi Darni bersama Kepala Puskesmas Cot Seumeureung dan jajaran melakukan peninjauan serta pendampingan terhadap Akbar.
Dalam penjelasannya, Dinas Kesehatan menyebut Akbar belum terdiagnosis sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Kondisi Akbar disebut berkaitan dengan disabilitas intelektual atau retardasi mental dan masih memerlukan pemeriksaan serta pendampingan medis.
Dinas Kesehatan juga menyatakan akan melibatkan dokter spesialis jiwa untuk memantau perkembangan Akbar.
Pada tahap tersebut, pemerintah daerah bersama pihak terkait mulai mencari solusi agar Akbar mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak. Dinas Sosial Aceh Barat juga disebut akan membantu kebutuhan keluarga dan melakukan koordinasi lintas sektor.
Tinggal di Gubuk
Kondisi tempat tinggal Akbar kemudian kembali diberitakan pada 6 September 2026. Gubuk yang ditempati Akbar disebut berukuran sekitar empat meter persegi. Bangunan tersebut beralaskan tanah, berdinding pelepah rumbia dan beratap daun rumbia.
Suryanti mengatakan kondisi Akbar telah terlihat sejak kecil. Setelah persoalan rumah tangga dengan ayah Akbar, ia kembali ke rumah orang tuanya di Gampong Ujong Nga bersama anaknya.
Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, Suryanti mengaku kesulitan menyediakan rumah yang layak sekaligus memberikan pengawasan penuh terhadap Akbar.
Ia berharap pemerintah dapat membantu menyediakan rumah sederhana yang memiliki tempat tidur, kamar mandi dan ruang untuk beraktivitas.
Bupati Tarmizi Datangi Akbar
Perhatian terhadap kondisi Akbar kemudian mendapat respons langsung dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Pada 13 September 2026, Bupati Aceh Barat Tarmizi bersama jajaran mendatangi Akbar melalui program Dokter Masuk Rumah (Dokmaru).
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah menyatakan akan membawa Akbar ke Banda Aceh untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Menurut keterangan Tarmizi yang diberitakan ANTARA, keluarga sebelumnya menempatkan Akbar di gubuk karena tidak mampu melakukan pengawasan selama 24 jam. Keluarga juga khawatir ketika Akbar mengalami emosi dan merusak sejumlah benda di dalam rumah.
Tarmizi mengatakan pengurungan bukan solusi untuk menangani kondisi Akbar. “Secara medis, semakin terkurung, pasien akan semakin stres.”
Tarmizi juga menyatakan pemerintah daerah berkomitmen agar tidak ada lagi warga Aceh Barat yang dipasung atau dikurung.
Akbar Dibawa ke Banda Aceh
Rencana tersebut kemudian direalisasikan pada Sabtu, 19 September 2026. Tarmizi mengantarkan langsung Akbar bersama keluarganya ke RSJ Banda Aceh. Kedatangan mereka disambut Kepala RSJ Banda Aceh, dr. Hanif.
Sebelum menjalani perawatan, keluarga Akbar disebut memperoleh bantuan melalui Kartu Aceh Barat Sehat (KABS) sebesar Rp1 juta dari RSUD Cut Nyak Dhien.
Selama berada di Banda Aceh, kebutuhan Akbar dan ibunya, termasuk makan dan minum, disebut mendapat dukungan dari Rakan Tim Rumah Singgah.
Tarmizi mengatakan ibu Akbar sempat khawatir tidak dapat mendampingi anaknya selama menjalani perawatan. Namun, setelah melihat fasilitas tempat Akbar dirawat, kekhawatiran tersebut berkurang.
Akbar ditempatkan di kamar sendiri yang dilengkapi kamar mandi dan pendingin ruangan. Ibunya tetap diperbolehkan mendampinginya selama proses perawatan. “Kami berharap Akbar bisa sembuh agar orang tuanya menjadi tenang. Kami juga akan membangun rumah khusus untuk Akbar supaya dia tidak dikurung lagi di luar rumah,” kata Tarmizi, sebagaimana diberitakan sejumlah media.
Rumah Akbar Mulai Diukur
Saat Akbar menjalani perawatan di Banda Aceh, rencana pembangunan rumah di kampung halamannya juga mulai direalisasikan.Forum Tokoh Peduli Aceh Barat (FTPAB) melakukan pengukuran awal lokasi pembangunan rumah di Gampong Ujong Nga pada 19 September 2026.
Ketua FTPAB Adami Umar mengatakan pembangunan rumah tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang membutuhkan. Dana pembangunan disebut berasal dari infak dan sedekah. Selain rumah untuk Akbar, FTPAB juga merencanakan pembangunan rumah layak huni bagi seorang warga bernama Nurmala.
Keuchik Gampong Ujong Nga, Marzuki, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan FTPAB atas perhatian terhadap kondisi Akbar.
Dari Gubuk Menuju Penanganan Medis
Penanganan terhadap Akbar berlangsung dalam beberapa tahap sejak kasusnya menjadi perhatian publik pada awal September.Pada 5 September, Dinas Kesehatan Aceh Barat melakukan pendampingan dan memberikan penjelasan mengenai kondisi kesehatan Akbar. Sepekan kemudian, Bupati Tarmizi turun langsung melihat kondisinya dan memutuskan membawa Akbar ke Banda Aceh.
Pada 19 September, rencana tersebut terealisasi. Akbar dibawa ke RSJ Banda Aceh untuk mendapatkan penanganan medis, sementara di kampung halamannya pembangunan rumah layak huni mulai dipersiapkan.
Penanganan Akbar kini tidak hanya bergantung pada pembangunan tempat tinggal. Proses pemeriksaan dan perawatan medis, pendampingan keluarga, serta keberlanjutan perawatan setelah kembali ke Aceh Barat menjadi bagian penting dari proses selanjutnya.
Perjalanan Akbar Belum Selesai
Kisah Akbar belum berakhir pada hari ia tiba di Banda Aceh.Perawatan medisnya masih berlangsung. Rumahnya juga baru memasuki tahap pengukuran.Setelah perawatan selesai, tantangan berikutnya adalah memastikan Akbar mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan ketika kembali ke Aceh Barat.
Di balik kisah Akbar, ada pula kisah seorang ibu yang selama bertahun-tahun bertahan dengan kemampuan yang dimilikinya.Ia bukan tidak ingin memberikan rumah yang layak kepada anaknya.Ia bukan tidak ingin merawat anaknya.Ia hanya menghadapi keadaan yang jauh lebih besar daripada kemampuannya.
Kini, ketika Akbar menjalani perawatan di Banda Aceh, sebuah rumah sedang dipersiapkan di Ujong Nga.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tinggal di sebuah gubuk, Akbar memiliki sesuatu yang sedang menunggunya ketika pulang sebuah rumah Dan mungkin, bagi Akbar dan ibunya, rumah itu bukan hanya tempat untuk berteduh Rumah itu adalah awal dari harapan baru.






