Sudutpenanews.com | Aceh Barat — Ada perjalanan hidup yang tidak dibangun oleh satu lompatan besar. Ia tumbuh perlahan, dari halaman-halaman buku yang dibaca sejak kecil, bangku sekolah, ruang kelas, laboratorium penelitian, proyek pembangunan, hingga meja birokrasi. Pada akhirnya, perjalanan itu membawa seseorang ke ruang yang jauh lebih besar, tempat kebijakan pemerintahan daerah dirumuskan dan digerakkan.
Perjalanan itu adalah perjalanan Dr. Ir. Kurdi, S.T., M.T., M.H., IPM., ASEAN.Eng.
Pada 24 Agustus 2026, perjalanan panjang tersebut memasuki salah satu babak terpenting. Bupati Aceh Barat Tarmizi melantik Kurdi sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Barat definitif.
Pelantikan itu menjadi puncak sementara dari perjalanan seorang birokrat yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai sosok teknokrat. Seorang insinyur yang akrab dengan jalan, jembatan, tata ruang, bangunan, kebencanaan, hingga berbagai persoalan pembangunan infrastruktur.
Namun, untuk memahami Kurdi sebagai seorang Sekda, perjalanan itu perlu ditarik jauh ke belakang. Sebab, kisahnya tidak bermula dari sebuah jabatan.
Kisah itu bermula dari Meulaboh, 12 Juni 1976.
Dari Rumah Sederhana di Meulaboh
Kurdi lahir di Meulaboh dari keluarga sederhana. Ayahnya, Zamzami, merupakan seorang petani, sementara ibunya, Asnawati, adalah ibu rumah tangga.
Sejak kecil, Kurdi dikenal sebagai anak yang gemar membaca. Kebiasaan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Kegemarannya terhadap buku bahkan membawanya menulis buku Cara Cepat Matematika yang diterbitkan pada 1999.
Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Negeri Ujong Kalak. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Meulaboh dan SMA Negeri 2 Meulaboh. Ia menyelesaikan pendidikan SMA pada 1995 dari jurusan IPA.
Dari kebiasaan membaca itulah tumbuh dorongan untuk terus belajar. Bagi Kurdi, pendidikan bukan sekadar jalan untuk mendapatkan gelar, melainkan jalan untuk memahami persoalan dan mencari solusi.
Barangkali, di situlah fondasi pertama perjalanan kariernya terbentuk.
Bukan dari jabatan, melainkan dari rasa ingin tahu.
Menjadikan Ilmu sebagai Jalan Pulang
Kurdi kemudian menempuh pendidikan tinggi di bidang teknik sipil. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Sipil di Universitas Syiah Kuala, kemudian melanjutkan pendidikan S2 Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung atau ITB.
Perjalanannya tidak berhenti di sana.
Ia kembali ke ITB untuk menempuh pendidikan doktoral Teknik Sipil. Dalam dokumen wisuda Program Studi Teknik Sipil ITB, Kurdi tercatat sebagai lulusan doktor dengan penelitian berjudul “Efek Residual Stress Terhadap Kinerja Elemen Link Pada Struktur Rangka Baja Berpengaku Eksentrik.”
Ia dinyatakan lulus dengan predikat cum laude.
Penelitian tersebut bukan penelitian sederhana. Kurdi meneliti tegangan sisa atau residual stress pada elemen struktur baja yang berkaitan dengan kinerja bangunan dalam menghadapi beban gempa.
Penelitian itu dilakukan melalui pendekatan eksperimental, termasuk pengukuran residual stress menggunakan Neutron Diffraction Method di fasilitas penelitian BATAN.
Hasil penelitian tersebut kemudian berkembang menjadi publikasi ilmiah internasional.
Pada 2017, karya Kurdi bersama Bambang Budiono, Muslinang Moestopo, Dyah Kusumastuti, dan M. Refai Muslih diterbitkan dalam Journal of Constructional Steel Research dengan judul “Residual stress effect on link element of eccentrically braced frame.”
Namanya juga tercatat dalam daftar karya ilmiah pada 16th World Conference on Earthquake Engineering di Santiago, Chile.
Dengan demikian, jauh sebelum dikenal sebagai pejabat pemerintah, Kurdi terlebih dahulu membangun identitas sebagai akademisi dan peneliti di bidang teknik sipil.
Beasiswa, Penelitian, dan Konferensi Dunia
Perjalanan akademik Kurdi juga tidak berlangsung tanpa perjuangan.
Profil yang diterbitkan Dinas PUPR Aceh Barat mencatat bahwa ia pernah menerima sejumlah beasiswa, antara lain LPDP, Bentoel Bakti Indonesia, Supersemar, dan Orbit.
Ia juga tercatat sebagai salah satu peneliti terbaik kategori mahasiswa S-3 dalam Konferensi Nasional Perguruan Tinggi se-Indonesia.
Penelitiannya tentang residual stress effect on link element of eccentrically braced frame kemudian dibawa ke panggung konferensi gempa bumi dunia.
Di titik ini terlihat satu hal penting dari perjalanan Kurdi.
Ia bukan hanya belajar untuk memperoleh gelar.
Ia belajar untuk memecahkan persoalan.
Kebiasaan itu kemudian terbawa ketika ia memasuki dunia birokrasi.
Dari Laboratorium Menuju Puing-Puing Pascatsunami
Perjalanan Kurdi sebagai aparatur negara tidak dapat dipisahkan dari salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Aceh, yakni tsunami pada 26 Desember 2004.
Setelah bencana tersebut, Aceh membutuhkan tenaga yang tidak hanya memahami teori pembangunan, tetapi juga mampu menerjemahkan ilmu tersebut menjadi pekerjaan nyata di lapangan.
Profil Dinas PUPR Aceh Barat mencatat bahwa pada periode 2005–2009, Kurdi terlibat dalam penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh sebagai Kasatker maupun Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK pada wilayah regional IV.
Fase tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya.
Ilmu teknik sipil yang selama ini dipelajari di ruang kelas dan laboratorium kini berhadapan langsung dengan kenyataan. Jalan yang rusak, bangunan yang hancur, kawasan pesisir yang berubah, serta masyarakat yang membutuhkan kembali akses untuk menjalani kehidupan.
Di sanalah ilmu bertemu dengan pengabdian.
Seorang insinyur tidak lagi hanya berhadapan dengan angka, gambar teknis dan perhitungan struktur. Ia berhadapan dengan manusia yang kehidupannya bergantung pada apakah sebuah jalan bisa dilalui, sebuah jembatan dapat digunakan, atau sebuah kawasan dapat kembali dibangun.
Insinyur yang Masuk ke Dunia Birokrasi
Kurdi kemudian tumbuh dalam birokrasi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Perjalanan kariernya membawanya ke salah satu posisi teknis strategis di daerah, yakni sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Aceh Barat.
Pada 2020, ia telah dipercaya memimpin Dinas PUPR.
Namun, jabatan tersebut tidak dijalankannya hanya dari balik meja.
Profil Dinas PUPR Aceh Barat menggambarkan kebiasaannya melakukan inspeksi lapangan. Bahkan pada hari libur, ia disebut kerap bersepeda sambil melihat langsung kondisi proyek pembangunan.
Ia juga dikenal responsif terhadap persoalan dan pengaduan masyarakat.
Bagi sebagian orang, proyek infrastruktur mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam dokumen anggaran.
Bagi seorang insinyur seperti Kurdi, jalan yang rusak adalah sesuatu yang harus dilihat. Jembatan yang bermasalah harus didatangi. Keluhan masyarakat harus ditelusuri. Sementara pekerjaan pemerintah harus dapat dilihat hasilnya.
Di situlah karakter teknokratnya terlihat.
Ia terbiasa melihat persoalan dari lapangan sebelum mengambil kesimpulan.
“Dinas Basah” dan Tantangan Transparansi
Menjadi Kepala Dinas PUPR bukan pekerjaan ringan. Sektor ini mengelola pembangunan fisik dengan anggaran besar sehingga selalu menjadi perhatian publik.
Kurdi memahami tantangan tersebut.
Dalam wawancara yang diterbitkan Dinas PUPR Aceh Barat pada 2020, ia menekankan pentingnya transparansi dalam pelaksanaan pembangunan.
Salah satu gagasannya adalah memvisualisasikan kegiatan proyek sehingga masyarakat dapat mengetahui sekaligus ikut melakukan pengawasan terhadap pekerjaan di lapangan.
Ia juga mendorong percepatan pembangunan jalan lingkar atau ring road yang menghubungkan sejumlah kecamatan di Aceh Barat.
Pada 2020, dari total sekitar 153,85 kilometer ruas jalan ring road, sekitar 106,96 kilometer disebut telah teraspal.
Cara berpikir tersebut memperlihatkan bagaimana Kurdi membawa pola pikir seorang insinyur ke dalam pemerintahan.
Persoalan harus diukur, dipetakan, kemudian diselesaikan.
Dari Jalan dan Jembatan Menuju Tata Ruang Digital
Salah satu jejak penting Kurdi sebagai birokrat adalah lahirnya Sistem Informasi Tata Ruang Aceh Barat atau SITRAB.
SITRAB bukan sekadar aplikasi. Inovasi tersebut merupakan upaya membawa pelayanan tata ruang dan perizinan ke dalam sistem digital.
Dalam pemaparannya pada seleksi Kenaikan Pangkat Luar Biasa pada 2026, Kurdi menjelaskan bahwa SITRAB terintegrasi dengan pelayanan Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG.
Sistem tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh informasi dan mengakses layanan tanpa harus selalu datang langsung ke kantor pemerintahan.
Inovasi tersebut kemudian membawanya ke panggung nasional.
Pada ajang Anugerah Aparatur Sipil Negara (AASN) 2023, Kurdi meraih peringkat ketiga nasional kategori Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama.
SITRAB menjadi salah satu inovasi yang turut mengantarkannya memperoleh penghargaan tersebut.
Penghargaan itu bukan semata-mata tentang pencapaian pribadi.
Di baliknya ada sebuah pesan yang lebih besar: birokrasi tidak harus selalu identik dengan berkas, meja dan stempel.
Birokrasi juga dapat berbicara tentang teknologi, kemudahan pelayanan dan efisiensi.
Pada akhirnya, teknologi dalam pemerintahan seharusnya bukan sekadar sesuatu yang terlihat modern, tetapi harus membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan pelayanan.
Penghargaan demi Penghargaan
Rekam jejak Kurdi kemudian semakin panjang.
Sejumlah capaian yang tercatat dalam berbagai profil dan publikasi antara lain Juara III Peserta Terbaik Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Puslatbang KHAN LAN Banda Aceh pada 2022, Juara I Anugerah Perencanaan Daerah Tingkat Kabupaten pada 2022, serta Juara II Inovasi Daerah Tingkat Kabupaten melalui Sistem Informasi Tata Ruang Aceh Barat pada 2023.
Ia juga tercatat sebagai pemegang Sertifikat Kompetensi Bangunan Level 9 serta dipercaya sebagai Penilai Ahli Kegagalan Bangunan Gedung.
Selain itu, Kurdi juga pernah dipercaya menjadi tenaga penilai ahli pada Sistem Informasi Bangunan Gedung atau SIMBG.
Ia kemudian dipercaya menjadi penguji Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II yang diselenggarakan Puslatbang KHAN LAN RI di Banda Aceh.
Dalam kapasitas tersebut, ia ikut menilai rancangan dan implementasi proyek perubahan para pejabat eselon II dari berbagai daerah di Indonesia.
Dengan kata lain, orang yang sebelumnya belajar tentang kepemimpinan kemudian dipercaya untuk ikut menilai kepemimpinan orang lain.
Gelar Insinyur Profesional Madya
Gelar “Ir.” di depan nama Kurdi bukan sekadar tambahan gelar akademik.
Pada 2022, ia menyelesaikan Program Profesi Insinyur di ITB. Setelah melalui proses sertifikasi profesional, ia memperoleh gelar Insinyur Profesional Madya atau IPM.
Salah satu profil pendidikan menyebut program profesi tersebut diselesaikan dalam satu semester dengan beban 24 SKS dan indeks prestasi 4,00.
Di luar birokrasi, Kurdi juga dipercaya menjadi Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Aceh Barat periode 2021–2024.
Ketika dilantik sebagai ketua, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara insinyur, perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, LSM dan BUMN dalam pembangunan daerah.
Bagi Kurdi, keinsinyuran bukan semata-mata profesi.
Keinsinyuran adalah bagian dari tanggung jawab untuk ikut membangun daerah.
Bukan Hanya Membangun Jalan
Perjalanan Kurdi kemudian membawanya keluar dari dunia teknik sipil yang selama bertahun-tahun menjadi bidang profesionalnya.
Ia dipercaya memimpin Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Barat.
Di sana, persoalan yang dihadapi berubah.
Bukan lagi hanya jalan, jembatan dan tata ruang, tetapi juga sampah, kebersihan kota, lingkungan, pelayanan publik serta bagaimana persoalan ekologis ditempatkan dalam agenda pembangunan.
Pada 2026, ketika menjabat Kepala DLH, Kurdi ikut mendorong peningkatan pengelolaan sampah sekaligus Pendapatan Asli Daerah melalui retribusi sampah.
Pada Maret 2026, capaian retribusi disebut telah mencapai sekitar Rp700 juta, dengan target tahun tersebut sebesar Rp2,5 miliar.
Perpindahan bidang tersebut memperlihatkan bahwa seorang birokrat tidak pernah benar-benar selesai belajar.
Setiap jabatan membawa persoalan baru.
Dan setiap persoalan menuntut kemampuan untuk kembali belajar.
Ketika Kepercayaan Semakin Besar
Pada Oktober 2025, Kurdi dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Barat, menggantikan pejabat sebelumnya yang masa tugasnya berakhir.
Penunjukan tersebut efektif mulai 20 Oktober 2025.
Posisi sebagai Plt Sekda mempertemukannya dengan persoalan yang jauh lebih luas.
Jika sebelumnya ia banyak berurusan dengan pembangunan fisik, kini ia harus melihat pemerintah daerah sebagai sebuah kesatuan.
Kesehatan.
Pendidikan.
Lingkungan.
Infrastruktur.
Keuangan.
Aparatur.
Pelayanan publik.
Semuanya harus bergerak dalam satu irama.
Dalam posisi tersebut, Kurdi antara lain terlibat dalam koordinasi pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh Barat dan berbagai agenda pemerintahan lainnya.
Di titik ini, ruang kerjanya mulai berubah.
Dari seorang kepala dinas yang fokus pada satu sektor, ia mulai masuk ke ruang koordinasi seluruh pemerintahan daerah.
Ujian Terbesar Seorang ASN
Perjalanan itu kembali memasuki babak penting pada April 2026.
Nama Kurdi masuk sebagai kandidat penerima Kenaikan Pangkat Luar Biasa atau KPLB.
Saat itu, ia berpangkat Pembina Utama Muda atau IV/c.
Badan Kepegawaian Negara kemudian mengundangnya untuk mempresentasikan prestasi kerja di hadapan panel penilai pada 21 April 2026 di Kantor BKN Pusat Jakarta.
Yang dibawa Kurdi ke hadapan panel bukan semata-mata cerita tentang dirinya.
Ia membawa cerita tentang inovasi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat.
Tentang SITRAB.
Tentang digitalisasi pelayanan.
Tentang tata ruang.
Tentang bagaimana inovasi birokrasi dapat berdampak terhadap masyarakat dan iklim investasi.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Kurdi memperoleh KPLB dan pangkatnya naik dari IV/c menjadi IV/d atau Pembina Utama Madya, berlaku mulai 1 Mei 2026.
Kenaikan pangkat tersebut berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 00432/KEP/AA/15001/26 sebagaimana diberitakan sejumlah media.
Bagi seorang ASN daerah, capaian tersebut bukan perkara kecil.
Ia merupakan pengakuan terhadap rekam kerja yang dibawa dari sebuah kabupaten di ujung barat Indonesia menuju meja penilaian tingkat nasional.
Dari Plt Menuju Kursi Sekda
Setelah menjalani proses seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, nama Kurdi masuk dalam tiga kandidat yang direkomendasikan sebagai calon Sekda Aceh Barat.
Pada Agustus 2026, ia tercatat sebagai kandidat dengan pangkat Pembina Utama Madya (IV/d) dan posisi Kepala Dinas Lingkungan Hidup.
Proses tersebut akhirnya menemukan ujungnya.
24 Agustus 2026.
Di Aula Teuku Umar, Bapperida Aceh Barat, Bupati Tarmizi melantik Kurdi sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Barat definitif.
Pelantikan itu menjadi titik penting dalam perjalanan panjangnya sebagai ASN.
Dari kepala dinas, kemudian Plt Sekda, hingga akhirnya dipercaya menduduki jabatan Sekda definitif.
Dari orang yang selama bertahun-tahun berkutat dengan jalan, jembatan dan tata ruang, kini ia berada pada posisi yang menuntut kemampuan mengoordinasikan hampir seluruh sektor pemerintahan daerah.
Sekda yang Masih Membawa Jiwa Insinyur
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan tersebut.
Kurdi tidak datang ke kursi Sekda dari jalur birokrasi administratif semata.
Ia datang dari dunia teknik.
Ia pernah meneliti bagaimana struktur baja merespons tekanan.
Ia pernah berbicara tentang bangunan tahan gempa.
Ia pernah terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami.
Ia pernah memimpin PUPR.
Ia mengembangkan sistem informasi tata ruang.
Ia kemudian bergelut dengan persoalan lingkungan dan sampah.
Kini, ia harus mengoordinasikan pemerintahan daerah secara keseluruhan.
Karena itu, cara berpikir seorang insinyur kemungkinan tetap melekat dalam dirinya.
Sebuah bangunan tidak akan berdiri kokoh apabila fondasinya lemah.
Begitu pula pemerintahan.
Ia membutuhkan struktur.
Membutuhkan koordinasi.
Membutuhkan disiplin.
Membutuhkan perhitungan.
Namun, lebih dari semua itu, pemerintahan membutuhkan manusia.
Dan di situlah tantangan baru Kurdi sebagai Sekda benar-benar dimulai.
Rekam Jejak ASN Dr. Ir. Kurdi
Jika perjalanan tersebut diringkas, berikut sejumlah tonggak penting dalam perjalanan pendidikan, profesional dan ASN Dr. Ir. Kurdi:
1976 — Lahir di Meulaboh pada 12 Juni 1976.
1989 — Lulus SD Negeri Ujong Kalak.
1992 — Lulus SMP Negeri 1 Meulaboh.
1995 — Lulus SMA Negeri 2 Meulaboh jurusan IPA.
1999 — Menulis buku Cara Cepat Matematika.
2000 — Menyelesaikan S1 Teknik Sipil di Universitas Syiah Kuala.
2003 — Menyelesaikan S2 Teknik Sipil di ITB.
2005–2009 — Terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami sebagai Kasatker/PPK regional IV.
2015–2018 — Menempuh pendidikan doktor Teknik Sipil di ITB.
2017 — Meraih gelar doktor dengan penelitian mengenai residual stress pada struktur baja dan karya penelitiannya diterbitkan dalam Journal of Constructional Steel Research.
2017 — Karya penelitian dibawa ke 16th World Conference on Earthquake Engineering di Santiago, Chile.
2020 — Dipercaya memimpin Dinas PUPR Aceh Barat dan aktif mendorong pembangunan infrastruktur serta transparansi proyek.
2021–2024 — Dipercaya sebagai Ketua PII Cabang Aceh Barat.
2022 — Menyelesaikan Program Profesi Insinyur di ITB dan memperoleh gelar IPM.
2022 — Meraih Juara III Peserta Terbaik PKN Tingkat II dan Juara I Anugerah Perencanaan Daerah tingkat kabupaten.
2023 — Mendapat sertifikasi kompetensi bangunan Level 9 dan dipercaya sebagai Penilai Ahli Kegagalan Bangunan Gedung.
2023/2024 — SITRAB mengantarkannya meraih peringkat III nasional AASN/ASN Award 2023 kategori JPT Pratama yang kemudian diserahkan dalam ASN Talent Fest 2024.
2023 — Dipercaya menjadi penguji PKN Tingkat II yang diselenggarakan Puslatbang KHAN LAN RI.
2025 — Dipercaya memimpin Dinas Lingkungan Hidup Aceh Barat.
20 Oktober 2025 — Ditunjuk sebagai Plt Sekda Aceh Barat.
2026 — Masuk kandidat Kenaikan Pangkat Luar Biasa setelah mengikuti proses penilaian nasional BKN.
1 Mei 2026 — Pangkat naik dari IV/c menjadi IV/d Pembina Utama Madya melalui KPLB.
24 Agustus 2026 — Dilantik menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Barat definitif.
8 September 2026 — Sebagai Sekda, Kurdi memimpin Pra-Rapim DOKA 2026 yang mengoordinasikan 15 SKPK dengan 204 paket kegiatan dan pagu sekitar Rp39,53 miliar.
Lebih dari Sekadar Daftar Jabatan
Jika hanya melihat daftar jabatan, perjalanan Kurdi mungkin terlihat seperti perjalanan birokrat pada umumnya.
Kepala dinas.
Plt Sekda.
Sekda.
Namun, di balik tiga jabatan tersebut terdapat perjalanan yang jauh lebih panjang.
Ada seorang anak petani yang gemar membaca.
Ada seorang anak Meulaboh yang menempuh pendidikan hingga doktoral di ITB.
Ada seorang peneliti yang mengukur tegangan sisa pada baja dengan metode difraksi neutron.
Ada seorang insinyur yang membawa penelitian tentang gempa ke konferensi dunia.
Ada seorang profesional yang memilih kembali bekerja di daerah.
Ada seorang ASN yang ikut membangun kembali Aceh setelah tsunami.
Ada seorang kepala dinas yang memilih turun ke lapangan.
Ada seorang birokrat yang mencoba membuat pelayanan tata ruang menjadi digital.
Ada sebuah inovasi yang kemudian membawanya masuk tiga besar ASN terbaik nasional.
Ada pula seorang pejabat daerah yang ketika diuji di tingkat nasional tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama sebuah kabupaten.
Dan akhirnya, ada seorang putra daerah yang kembali kepada daerahnya dalam bentuk tanggung jawab yang lebih besar.
Dari Anak Petani kepada Amanah yang Lebih Besar
Mungkin bagian paling menarik dari kisah Kurdi bukanlah gelar Dr. Ir., bukan pula IPM, ASEAN.Eng., ataupun pangkat Pembina Utama Madya.
Yang lebih menarik adalah garis panjang yang menghubungkan semuanya.
Dari keluarga sederhana.
Dari ayah seorang petani.
Dari ibu seorang ibu rumah tangga.
Dari sebuah kota di Aceh Barat.
Dari kebiasaan membaca.
Dari sekolah.
Dari universitas.
Dari laboratorium.
Dari proyek rehabilitasi pascatsunami.
Dari jalan-jalan yang rusak.
Dari ruang rapat.
Dari pengaduan masyarakat.
Dari inovasi digital.
Dari penghargaan.
Dari ujian kepemimpinan.
Hingga akhirnya sampai ke kursi Sekretaris Daerah.
Namun, sebuah jabatan tinggi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan.
Justru di situlah ukuran sebenarnya dimulai.
Sebab semakin tinggi seorang ASN berdiri, semakin luas pula masyarakat yang berharap.
Sekda bukan hanya tentang siapa yang menduduki kursinya.
Sekda adalah tentang bagaimana seluruh mesin pemerintahan bekerja.
Tentang apakah pelayanan publik menjadi lebih mudah.
Tentang apakah anggaran benar-benar sampai kepada masyarakat.
Tentang apakah pembangunan tidak berhenti pada laporan dan angka.
Dan tentang apakah seorang warga kecil masih merasa bahwa pemerintah hadir ketika ia membutuhkan.
Pada akhirnya, seluruh perjalanan Kurdi mungkin kembali kepada satu hal yang sejak awal menjadi fondasi hidupnya:
ilmu yang harus bermanfaat.
Seorang anak yang dahulu membaca buku di rumah sederhana di Meulaboh kini berada di ruang tempat keputusan-keputusan besar daerah dibuat.
Namun sejarah akan selalu mengingatkan bahwa jabatan boleh berubah, pangkat boleh bertambah, dan gelar boleh semakin panjang.
Tetapi ukuran seorang abdi negara pada akhirnya tetap sederhana:
seberapa besar kehadirannya dirasakan oleh masyarakat yang dilayaninya.
Dan di situlah babak baru perjalanan Dr. Ir. Kurdi sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Barat benar-benar dimulai.
Penulis : Redaksi Sudutpenanews.com






