Sudutpenanews.com | Aceh Barat — Pendidikan adalah jantung kehidupan manusia. Ketika pendidikan berjalan dengan baik, maka berbagai aspek kehidupan masyarakat pun akan tumbuh dengan baik. Sejarah telah membuktikan, pendidikan menjadi salah satu fondasi utama dalam mencerdaskan manusia dan membangun peradaban.
Namun, zaman terus berubah. Cara anak-anak belajar hari ini tidak lagi sama dengan generasi sebelumnya. Di era digital, akses terhadap informasi dan pendidikan semakin terbuka. Teknologi hadir hampir di setiap sisi kehidupan, mulai dari telepon genggam, televisi hingga berbagai platform digital yang menjadi bagian dari keseharian anak-anak.
Pertanyaannya, di tengah kemudahan tersebut, sudahkah kita menyiapkan pondasi yang kuat bagi generasi bangsa berikutnya?.
Menurut Ketua Harian Pramuka Aceh Barat Zulkifli Andi Govi atau yang akrab disapa Dekjol, pendidikan tidak boleh hanya dimaknai sebagai proses mengejar nilai akademik. Lebih jauh dari itu, pendidikan harus mampu membentuk manusia yang memiliki karakter, moral, akhlak dan tujuan hidup yang jelas.
Dalam berbagai kesempatan, khususnya dalam pertemuan dan kegiatan organisasi kepramukaan yang hadir di lingkungan pendidikan, pentingnya pendidikan karakter selalu menjadi perhatian.
Kecerdasan akademik memang penting. Namun, kecerdasan tanpa akhlak dan moral yang baik dapat kehilangan arah.
Sekolah telah memberikan begitu banyak ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Setiap guru memiliki tanggung jawab terhadap mata pelajaran yang diajarkannya, sementara seorang siswa dituntut memahami berbagai mata pelajaran sekaligus.
Di tengah tuntutan tersebut, terkadang kita lupa bahwa anak-anak bukanlah sekadar angka yang tercatat dalam buku rapor.
Mereka sedang bertanya tentang siapa dirinya, apa yang ingin dicapai, dan akan menjadi apa kelak.
Tidak sedikit anak yang sudah duduk di bangku SMA, bahkan kelas dua atau tiga, tetapi ketika ditanya tentang tujuan hidup dan cita-citanya, mereka masih belum mampu memberikan jawaban yang jelas.
Ini bukan semata-mata kesalahan anak.Ada tanggung jawab bersama yang harus kita lihat.
Guru dan orang tua harus hadir bukan hanya untuk menuntut anak mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga membantu mereka menemukan potensi, cita-cita dan tujuan hidupnya.
Anak harus dibantu untuk memahami bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan nilai terbaik, melainkan juga tentang menjadi manusia yang baik dan bermanfaat.
Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan sejak tingkat SD, SMP, SMA hingga jenjang pendidikan berikutnya.
Menghadapi Tantangan Era Digital
Generasi hari ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa cepat.
Informasi bisa didapat hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan yang tidak ringan.
Anak-anak berhadapan dengan berbagai konten digital, budaya luar, pergaulan yang semakin luas, hingga berbagai pengaruh negatif yang dapat membentuk pola pikir dan perilaku mereka.
Di sinilah karakter menjadi benten.
Pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan usaha sadar dan terencana untuk membentuk kepribadian, akhlak mulia, nilai moral, tanggung jawab serta kepedulian terhadap sesama.
Anak yang memiliki karakter kuat akan lebih mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Kita sering melihat seseorang yang ketika masih sekolah dianggap nakal atau kurang berprestasi secara akademik, tetapi ketika dewasa justru mampu menjadi pengusaha, polisi, anggota legislatif, pimpinan perusahaan maupun pejabat.
Tentu bukan berarti kenakalan merupakan jalan menuju kesuksesan. Tetapi dari banyak perjalanan kehidupan, kita belajar bahwa kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh nilai akademik semata.
Ada keberanian, kemampuan berkomunikasi, pengalaman, kepemimpinan, daya juang, kemampuan beradaptasi dan karakter yang turut menentukan perjalanan seseorang.
Karena itu, tugas pendidikan bukan hanya mencetak anak yang pintar menjawab soal, tetapi juga mencetak manusia yang mampu menjawab persoalan kehidupan.
Guru, Orang Tua dan Masyarakat Harus Hadir
Persoalan pendidikan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.
Orang tua memiliki peran yang sangat besar. Begitu pula masyarakat.
Pengaruh lingkungan terhadap tumbuh kembang anak sangat kuat. Kita hari ini menghadapi kondisi yang memprihatinkan ketika sebagian anak berani melawan guru bahkan orang tuanya secara terang-terangan.
Hal tersebut seharusnya menjadi alarm bagi kita semua.
Ketika seorang anak bolos sekolah dan masyarakat memilih diam karena berpikir, “bukan anak saya”, sesungguhnya kita sedang membiarkan sebuah persoalan tumbuh di tengah lingkungan kita.
Anak-anak adalah tanggung jawab bersama.
Sekolah dan madrasah harus mampu menciptakan lingkungan yang aman, sehat dan nyaman sehingga sekolah benar-benar menjadi rumah kedua bagi siswa.
Di sana harus tumbuh nilai religius, kejujuran, kedisiplinan, toleransi, tanggung jawab dan kepedulian sosial.
Sementara di rumah, orang tua harus menjadi teladan pertama bagi anak.
Anak tidak hanya membutuhkan nasihat. Mereka membutuhkan contoh.
Sulit meminta anak berkata jujur jika orang dewasa di sekelilingnya memberikan contoh sebaliknya. Sulit meminta anak menghormati guru jika orang tua justru merendahkan guru di hadapan mereka.
Karakter tumbuh dari kebiasaan dan keteladanan.
Hardikda dan Renungan untuk Kita Semua
Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 Tahun 2026 seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial.
Hardikda harus menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri kita masing-masing, anak seperti apa yang sedang kita persiapkan untuk masa depan Aceh?
Apakah kita hanya ingin mereka pintar?
Ataukah kita ingin mereka menjadi manusia yang pintar sekaligus berakhlak, memiliki integritas, bertanggung jawab, mandiri dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain?
Jawabannya tentu harus yang kedua.
Kita boleh membangun sekolah yang megah. Kita boleh menyediakan teknologi pendidikan yang canggih. Kita boleh mengejar prestasi akademik setinggi-tingginya.
Tetapi jangan pernah lupa, pembangunan pendidikan yang sesungguhnya adalah pembangunan manusia.
Jika moral dan akhlak seseorang telah tertanam kuat, di mana pun ia berada ketika dewasa, ia akan mampu menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Sebaliknya, jika pendidikan hanya mengejar kecerdasan tanpa membangun karakter, maka kita sedang menciptakan generasi yang mungkin pintar secara akademik, tetapi rapuh ketika menghadapi kehidupan.
Karena itu, mari kita kembali bergandengan tangan.
Guru mendidik dengan keteladanan. Orang tua mendampingi dengan kasih sayang. Masyarakat menjaga dengan kepedulian. Sekolah menciptakan lingkungan yang sehat dan aman. Dan anak-anak kita diberikan ruang untuk menemukan potensi serta tujuan hidupnya.
Sebab masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita bangun hari ini, tetapi juga oleh manusia seperti apa yang kita lahirkan melalui pendidikan.
Jika kita peduli pada pendidikan, maka kita sedang menanam benih kesejahteraan dan kejayaan untuk masa depan.
Namun jika kita memilih acuh tak acuh, jangan salahkan zaman ketika kelak kita harus menghadapi generasi yang kehilangan arah.
Pendidikan adalah investasi terbesar sebuah bangsa.Dan pendidikan karakter adalah pondasi yang tidak boleh kita tinggalkan.
Penulis : Zulkifli Andi Govi, SE.ME ( Ketua Harian Pramuka Aceh Barat ).







