Warga Keluhkan Pungutan Parkir Berulang di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh

Sudutpenanews.com | Meulaboh : Keluhan terkait praktik pungutan parkir di lingkungan RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh mencuat ke publik setelah ramai diperbincangkan dalam kolom komentar tayangan TikTok akun @sudutpenanewsofficial. Sejumlah warganet mengaku mengalami pungutan berulang setiap kali keluar-masuk area rumah sakit.

Akun TikTok @💫T3UKU D3D3K M4’RUF YKD💫 mengaku harus membayar parkir berkali-kali dalam waktu singkat, meskipun hanya keluar sebentar dari rumah sakit.

“Iya ini benar aku yang sudah rasakan, keluar dari rumah sakit pulang ganti baju, nanti masuk lagi sudah beda, diminta Rp2 ribu. Masuk malam Rp5 ribu lagi. Keluar beli nasi juga bayar, parah,” tulisnya dalam komentar.

Keluhan serupa disampaikan akun @Pecinta Thrif yang menilai persoalan bukan pada besaran tarif, melainkan frekuensi pungutan yang dianggap berlebihan.

“Saya tidak mempermasalahkan dengan uang parkir segitu. Tapi yang saya permasalahkan, setiap keluar sebentar selalu minta uang parkir. Saya pernah keluar beli nasi sebentar sudah Rp5 ribu, beli kopi diminta lagi Rp5 ribu, terus ganti baju di rumah diminta lagi,” tulisnya.

Sementara itu, akun @edierdiansyah mengaku pernah dikenakan tarif hingga Rp10 ribu dan harus membayar dua kali dalam satu hari oleh petugas yang sama.

“Saya pernah mengalami diminta Rp10 ribu waktu anak saya sakit sebulan lalu. Saya komplain ke tukang parkir yang sehari-hari juga tukang becak, karena di hari yang sama dia minta lagi ke keluarga saya Rp10 ribu sehingga jadi Rp20 ribu. Dia bilang ini sudah aturannya dan tidak ada hubungannya dengan manajemen rumah sakit,” tulisnya.

Ia juga menyebut bahwa ketika hal tersebut ditanyakan kepada pihak keamanan rumah sakit, jawaban yang diterima menyebut parkir bukan menjadi kewenangan mereka.

“Saya tanyakan ke security, mereka juga bilang parkir bukan urusan mereka. Aneh tapi nyata,” lanjutnya.

Meski demikian, dalam komentarnya, ia tetap mengapresiasi pelayanan medis di rumah sakit tersebut.

“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih kepada bapak direktur dan seluruh staf atas layanannya. Kami sangat puas, perawat rutin memantau pasien, bahkan ada tausiah setiap Jumat di mushalla,” tulisnya.

Selain itu, akun @Teuku Mufti menilai fasilitas pelayanan publik seharusnya tidak menjadikan parkir sebagai beban tambahan bagi masyarakat.

“Harusnya bisa gratis kalau tempat pelayanan umum tidak dijadikan bisnis, tergantung kemauan dan pola pikir yang berkuasa,” tulisnya.

Senada, akun @King juga menyampaikan pandangannya bahwa rumah sakit umum seharusnya tidak memberlakukan tarif parkir.

“Harusnya kalau rumah sakit umum tidak ada tarif parkir,” tulisnya singkat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh terkait sistem pengelolaan dan kebijakan parkir yang berlaku di lingkungan rumah sakit tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *