Sudutpenanews.com | Aceh Barat – Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar, menegaskan komitmennya untuk mendorong percepatan pembangunan Rumah Sakit Regional Meulaboh yang hingga kini belum rampung sepenuhnya.
Hal tersebut disampaikan Malik Mahmud saat meninjau langsung progres pembangunan rumah sakit tersebut bersama Bupati Aceh Barat. Dalam kunjungan itu, ia mengaku terkesan dengan desain dan konstruksi bangunan rumah sakit yang dinilainya memiliki standar tinggi.
“Saya lihat gedung ini luar biasa, cukup bagus, konstruksinya bergaya Eropa. Tidak kalah dengan yang ada di Eropa maupun Singapura. Ini salah satu yang terbaik di kawasan Asia Tenggara,” ujar Malik Mahmud kepada awak media, Minggu (17/5/2026).
Namun demikian, ia mengaku kecewa karena pembangunan rumah sakit tersebut sempat terhenti, padahal anggaran yang telah dikucurkan dinilai sangat besar.
“Yang saya kecewa, kenapa sampai terhenti. Uang yang sudah dikucurkan begitu banyak, kalau tidak dilanjutkan akan sia-sia,” katanya.
Menurut Malik Mahmud, kondisi bangunan yang telah mencapai sekitar 50 persen pembangunan itu harus segera ditindaklanjuti agar tidak terbengkalai dan rusak.
Ia menyebut akan berupaya bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Barat untuk membawa persoalan tersebut langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, guna meminta dukungan percepatan penyelesaian rumah sakit tersebut.
“Saya akan bicara langsung dengan Pak Presiden supaya rumah sakit ini segera dibantu dan disiapkan penyelesaiannya,” ujarnya.
Malik Mahmud juga meminta Bupati Aceh Barat menyiapkan video dokumentasi dan kronologi pembangunan rumah sakit, mulai dari perencanaan hingga kondisi terkini, untuk dipresentasikan kepada Presiden.
Ia berharap rumah sakit tersebut nantinya dapat menjadi pusat rujukan kesehatan bagi masyarakat wilayah Barat Selatan Aceh, sehingga warga tidak perlu lagi dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh.
“Kalau rumah sakit ini selesai, masyarakat di regional barat selatan akan memiliki rumah sakit yang baik dan tidak perlu lagi jauh-jauh ke Banda Aceh,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Malik Mahmud juga mengungkapkan bahwa dirinya telah terlibat sejak awal perencanaan pembangunan rumah sakit tersebut pada masa pemerintahan Zaini Abdullah.
Ia menjelaskan, saat itu pihak Jerman turut memberikan dukungan dan pendampingan agar rumah sakit dibangun dengan standar Eropa, termasuk pelatihan tenaga medis dan sistem pelayanan rumah sakit.
“Dari pintu masuk sampai ruang operasi dirancang mengikuti standar Eropa. Karena memang ada perusahaan milik pemerintah Jerman yang membantu pembangunan rumah sakit di berbagai negara,” ungkapnya.
Meski sempat mengalami hambatan, Malik Mahmud berharap seluruh pihak dapat bersatu mendorong penyelesaian pembangunan rumah sakit tersebut dengan target rampung pada 2027 dan bisa digunakan pada 2028 mendatang.
“Mudah-mudahan apa yang kita usahakan ini bisa segera selesai dan rumah sakit ini benar-benar menjadi harapan masyarakat Barat Selatan Aceh,” pungkasnya.






