Sudutpenanews.com | Aceh Barat – Kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Barat tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, tetapi juga membuka peluang pasar bagi pedagang dan pemasok bahan pangan lokal. Salah satu pelaku usaha yang melihat perubahan tersebut adalah pedagang ayam yang selama ini memasok kebutuhan masyarakat dan usaha kuliner.
Bagi pedagang ayam, kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar menjadi peluang untuk memperluas pasar. Jika pengadaan bahan baku untuk MBG melibatkan pelaku usaha setempat, maka aktivitas perdagangan ayam ikut mendapatkan tambahan permintaan.
Muhammad Rizal, pedagang ayam potong di Meulaboh, mengatakan adanya kebutuhan ayam untuk program makanan bergizi memberikan harapan baru bagi pedagang kecil.
“Program seperti MBG tentu menjadi peluang bagi kami pedagang ayam. Kalau kebutuhan ayamnya rutin dan pedagang lokal diberikan kesempatan untuk memasok, kami bisa memiliki pasar yang lebih jelas,” kata Muhammad Rizal, Kamis (10/9/2026).
Menurut Rizal, selama ini pedagang ayam sangat bergantung pada kondisi pasar harian. Jumlah pembeli dapat berubah-ubah sehingga pendapatan pedagang tidak selalu sama setiap hari.
“Kalau pembeli masyarakat biasa, kadang ramai dan kadang sepi. Dengan adanya permintaan dari program seperti MBG, kami berharap ada tambahan pasar yang lebih teratur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan permintaan ayam tidak hanya memberikan keuntungan kepada pedagang yang menjual langsung kepada konsumen. Rantai usaha di belakangnya juga ikut bergerak, mulai dari peternak, pekerja pemotongan, pengangkut hingga pedagang di pasar.
“Yang mendapatkan manfaat bukan pedagang saja. Kalau permintaan meningkat,peternak juga membutuhkan pakan, kemudian ada pekerja yang menangani ayam dan ada kendaraan yang mengangkut. Jadi perputarannya cukup panjang,” katanya.
Harapan serupa disampaikan Iskandar, peternak ayam lokal di Aceh Barat. Menurutnya, keberadaan pasar yang relatif stabil dapat membantu peternak dalam menentukan jumlah produksi.
“Peternak membutuhkan kepastian pasar. Kalau ada permintaan yang jelas, kami bisa memperkirakan berapa ayam yang harus dipelihara dan kapan waktunya dipanen,” kata Iskandar.
Menurut dia, peternak lokal sebenarnya memiliki potensi untuk memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat apabila mendapat dukungan pasar yang memadai.
“Peternak kecil sebenarnya mampu berkembang. Masalahnya adalah bagaimana mendapatkan pasar dan menjaga produksi. Kalau pasar bertambah, kami tentu akan berusaha meningkatkan produksi,” ujarnya.
Selain ayam, kebutuhan protein lainnya seperti telur juga memiliki peluang untuk ikut terserap melalui program makanan bergizi.
Nuraini, pedagang telur di Pasar Bina Usaha Meulaboh, mengatakan program MBG dapat memberikan tambahan permintaan terhadap produk peternakan.
“Telur juga merupakan bahan pangan yang banyak dibutuhkan. Kalau produk lokal bisa masuk ke kebutuhan program, tentu pedagang telur dan peternak juga ikut merasakan manfaatnya,” kata Nuraini.
Ia berharap pelibatan pedagang lokal dilakukan dengan mekanisme yang jelas dan tetap memperhatikan kualitas barang.
“Kami siap memenuhi standar yang diperlukan. Yang penting ada informasi yang jelas mengenai kebutuhan, jumlah dan waktu pengiriman,” ujarnya.
Bagi pelaku usaha, keberadaan pasar baru bukan semata-mata soal peningkatan omzet.
Menurut Rizal, kepastian permintaan juga dapat membuat pedagang lebih berani mempertahankan usaha dan menambah modal.
“Kalau penjualan lebih stabil, kami lebih berani menambah stok dan memperbaiki usaha. Dampaknya juga kepada keluarga kami,” katanya.
Di sisi lain, keterlibatan pemasok lokal dapat memperpendek rantai distribusi bahan pangan. Produk dari peternak setempat dapat disalurkan kepada pedagang dan kemudian memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Aceh Barat.
“Kalau ayam dari peternak lokal bisa diserap di daerah sendiri, tentu bagus. Uangnya tidak langsung keluar daerah,” kata Iskandar.
Para pedagang berharap program MBG dapat berjalan secara berkelanjutan dengan tetap memberikan ruang kepada pelaku usaha lokal yang mampu memenuhi kebutuhan dan persyaratan.
Bagi mereka, MBG bukan hanya menjadi program penyediaan makanan bergizi, tetapi juga dapat menjadi pasar baru yang mendorong aktivitas peternakan dan perdagangan.
“Harapan kami sederhana, kalau memang ada kebutuhan ayam dari program MBG, pedagang dan peternak lokal jangan dilupakan. Kami ingin ikut berkembang bersama,” ujar Rizal.
Dengan keterlibatan pedagang dan peternak lokal, manfaat ekonomi program MBG berpotensi tidak berhenti pada penerima makanan. Perputaran permintaan juga dapat menjalar ke sektor produksi, perdagangan dan jasa yang berada di belakang penyediaan bahan pangan.






