Aceh Barat | Sudutpenanews.com : Insiden dugaan kelalaian pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh kembali memicu kemarahan publik. DPW Muda Seudang Aceh Barat menilai kejadian tersebut bukan peristiwa tunggal, melainkan cerminan kegagalan total kepemimpinan Direktur RSUD Cut Nyak Dhien, dr. Ilum Anam, yang dinilai telah berulang kali membahayakan keselamatan pasien.
Desakan pencopotan direktur menguat setelah peristiwa yang terjadi pada hari ini, ketika seorang anak dengan kondisi pipi robek dilaporkan tidak mendapatkan penanganan medis di IGD selama kurang lebih dua jam. Tanpa kejelasan pelayanan, orang tua korban akhirnya membawa anak tersebut ke RS Swasta Harapan Sehat, tempat pasien baru memperoleh tindakan medis.
Kepala Divisi Kajian Ideologi dan Kebijakan Publik DPW Muda Seudang Aceh Barat, Maulana Ridwan Raden, menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan puncak dari akumulasi persoalan manajerial yang selama ini dibiarkan tanpa evaluasi serius.
“Ini bukan kesalahan pertama dan sangat berbahaya jika terus dianggap sepele. Apa yang terjadi hari ini adalah akibat langsung dari kegagalan manajemen yang dibiarkan terlalu lama,” ujar Maulana dalam pernyataannya, Rabu.
Menurut Maulana, selama kepemimpinan dr. Ilum Anam, RSUD Cut Nyak Dhien berulang kali disorot publik akibat berbagai persoalan mendasar. Mulai dari keluhan lambannya pelayanan, terutama di IGD, hingga polemik tata kelola rumah sakit yang memicu kritik dari berbagai elemen masyarakat sipil.
Selain itu, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Aceh Barat tersebut juga kerap dikaitkan dengan persoalan pengelolaan keuangan dan administrasi, masalah fasilitas dan infrastruktur, serta konflik internal terkait jasa layanan dan remunerasi tenaga kesehatan yang berdampak langsung pada stabilitas dan kualitas pelayanan.
DPW Muda Seudang Aceh Barat juga menyoroti dugaan ketidakfokusan direktur dalam menjalankan tugas manajerial. Maulana mengungkapkan adanya laporan bahwa direktur masih aktif mengejar insentif sebagai dokter spesialis dengan melakukan visit pasien, sehingga fungsi kepemimpinan dan pengawasan manajerial justru terabaikan.
“Tidak ada larangan direktur berlatar belakang dokter. Tapi ketika kepentingan insentif klinis mengganggu tugas utama sebagai pimpinan rumah sakit, ini sudah menjadi masalah struktural,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut berkontribusi pada lemahnya koordinasi internal, lambannya respons IGD, serta absennya kontrol efektif di lapangan.
“Polanya jelas manajemen tidak sehat, kepemimpinan lemah, dan tidak berpihak pada keselamatan pasien,” katanya.
Maulana menegaskan, sebagai rumah sakit rujukan milik pemerintah daerah, RSUD Cut Nyak Dhien seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan yang cepat, aman, dan dapat diandalkan, khususnya bagi masyarakat kecil yang tidak memiliki banyak alternatif layanan.
“Kami menolak keras kegagalan ini. Jangan tunggu sampai yang bersangkutan pensiun. Apalagi jika masa jabatan justru berpotensi diperpanjang. Tidak ada jaminan besok akan bekerja lebih baik,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa mempertahankan pimpinan rumah sakit di tengah rentetan persoalan serius justru membuka risiko yang lebih besar bagi masyarakat.
“Hari ini masih anak dengan pipi robek. Besok bisa saja kasus yang lebih berat. Jika sampai ada korban jiwa akibat lambannya pelayanan, itu adalah kegagalan kolektif yang tidak bisa dimaafkan,” tegasnya.
Atas dasar itu, DPW Muda Seudang Aceh Barat menyampaikan tiga tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, yakni segera mencopot dan mengganti Direktur RSUD Cut Nyak Dhien tanpa menunggu masa pensiun, melakukan evaluasi serta audit manajerial secara menyeluruh terhadap jajaran pimpinan rumah sakit, dan menempatkan keselamatan pasien serta kualitas pelayanan sebagai prioritas utama kebijakan daerah.
“Kesehatan rakyat tidak boleh dikorbankan demi menjaga jabatan seseorang. Jika pemerintah daerah tetap mempertahankan pimpinan rumah sakit dengan rekam jejak persoalan seperti ini, publik berhak menilai ada pembiaran yang disengaja,” pungkas Maulana.
Sementara itu Direktur RSUD CND Ilum Anam ketika dikonfirmasi via pesan WhatsApp Rabu (31/12/2025) tidak memberikan komentar apapun dengan status pesan dibaca dan centang biru.






