Hidup dalam Gubuk Reyot 28 Tahun, Keluarga Nelayan di Pasie Raja Menanti Uluran Tangan Pemerintah

Sudutpenanews.com | Aceh Selatan – Di tengah pemukiman warga Desa Pante Raja, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan, berdiri sebuah rumah kayu berukuran sekitar 4×4 meter yang kondisinya jauh dari kata layak. Dinding papan yang telah lapuk dimakan usia dan atap yang mulai rusak menjadi saksi perjuangan hidup sebuah keluarga nelayan yang selama bertahun-tahun bertahan dalam keterbatasan.

Rumah sederhana itu dihuni oleh pasangan suami istri, Hendra Saputra Tanjung (39) dan Khasumi (38), bersama tiga orang anak mereka. Meski kondisinya memprihatinkan, rumah tersebut tetap menjadi tempat berlindung bagi keluarga kecil itu selama delapan tahun terakhir.

Saat ditemui media di kediamannya, Selasa (2/6/2026), Hendra menjelaskan bahwa rumah tersebut merupakan peninggalan almarhum ibu mertuanya yang telah ditinggalkan selama 20 tahun. Secara keseluruhan, usia bangunan itu kini diperkirakan telah mencapai 28 tahun.

Dengan mata berkaca-kaca, Hendra mengaku hingga saat ini belum pernah menerima bantuan rumah layak huni dari pemerintah daerah. Ia berharap ada perhatian terhadap kondisi keluarganya yang selama ini berjuang hidup dari hasil melaut.

“Apa kami ini dianggap bukan warga Aceh Selatan sehingga tidak ada perhatian terhadap keluarga kecil kami? Saya hanya seorang nelayan, istri saya ibu rumah tangga. Jangankan membangun rumah, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja kami masih kesulitan,” ujar Hendra dengan suara bergetar.

Menurutnya, penghasilan sebagai nelayan tidak menentu. Dalam kondisi cuaca baik, ia hanya mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Namun saat cuaca buruk melanda, ia kerap pulang tanpa membawa hasil yang cukup untuk dijual.

“Kalau cuaca bagus masih bisa dapat penghasilan. Tapi kalau cuaca buruk, kadang hanya dapat beberapa ekor ikan kecil untuk dimakan bersama keluarga,” katanya.

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga tersebut tak memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumah yang semakin rapuh. Dinding kayu yang mulai keropos dan atap yang rusak dibiarkan apa adanya karena kebutuhan sehari-hari lebih mendesak untuk dipenuhi.

Meski hidup dalam kondisi serba kekurangan, Hendra dan keluarganya tetap menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran. Mereka tidak pernah mengeluhkan nasib kepada tetangga maupun meminta belas kasihan dari orang lain.

Namun, kondisi rumah yang mereka tempati saat ini dinilai sudah tidak layak huni dan berpotensi membahayakan keselamatan penghuninya. Dari luar, bangunan tersebut tampak lebih menyerupai gubuk tua yang sewaktu-waktu dapat mengalami kerusakan lebih parah.

Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, keluarga nelayan ini hanya berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan yang tergerak untuk membantu. Harapan sederhana mereka bukanlah kemewahan, melainkan sebuah rumah yang aman dan layak untuk membesarkan ketiga anak mereka.

“Kami hanya ingin memiliki tempat tinggal yang layak untuk keluarga. Semoga ada yang mendengar dan peduli dengan kondisi kami,” tutur Hendra penuh harap.

Kisah keluarga kecil di Pante Raja ini menjadi potret nyata bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan dan menanti sentuhan kepedulian, agar mereka dapat merasakan kehidupan yang lebih layak di tanah kelahirannya sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *