Sudutpenanews.com |Aceh Barat Daya – Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika rombongan sahur itu berhenti di sebuah rumah sederhana. Di dalamnya, lantai tanah masih menjadi alas kehidupan sebuah keluarga dhuafa. Pemandangan itu membuat hati siapa pun yang datang tak akan mudah melupakannya.
Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, berdiri sejenak memandang rumah tersebut. Di tengah suasana sahur yang seharusnya hangat, ia justru merasakan pukulan yang begitu dalam di hatinya.
“Pagi ini saya terpukul sekali. Rupanya masih ada saudara kita yang tempat tinggalnya masih beralaskan tanah,” ucap Bupati Safaruddin melalui unggahan akun media sosialnya, Jum’at (13/3/2026).
Kunjungan sahur itu bukan sekadar agenda seremonial. Bagi Safaruddin, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap pembangunan, masih ada masyarakat yang menjalani hidup dengan keterbatasan yang sangat berat.
Dengan mata yang tampak berkaca-kaca, ia mengungkapkan sebuah janji yang lahir dari kegelisahan batinnya.
“Ya Allah, ku janjikan pada Rabku, jika umur ini masih dipanjangkan dan rezekiku dimudahkan, aku tak ingin melihat mereka hidup dalam kondisi yang tidak layak,” tuturnya.
Bagi Safaruddin, kepedulian bukanlah soal kesempurnaan. Ia menyadari manusia penuh kekurangan, namun belajar peduli dan berbagi adalah perintah Tuhan yang tak boleh diabaikan.
“Yang datang melihat dari dekat akan paham. Yang hanya menilai dari jauh mungkin akan terus salah paham,” katanya.
Malam berikutnya, langkah rombongan kembali berlanjut. Kali ini menuju Desa Pante Gelumpang, Kecamatan Tangan-Tangan. Di sana mereka mendatangi rumah seorang ibu yang hidup sebagai janda bersama seorang anaknya.
Saat tiba di lokasi, suasana hening seketika. Rumah yang mereka tempati tampak rapuh. Dinding kayunya mulai lapuk, atapnya bocor di beberapa bagian, dan bangunannya nyaris roboh dimakan usia serta hujan.
Melihat kondisi itu, Safaruddin tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
Di hadapan ibu tersebut, ia berjanji bahwa rumah itu akan dibangun kembali sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba. Ia ingin keluarga kecil itu menyambut Lebaran dengan tempat tinggal yang lebih layak dan aman.
Tak hanya itu, Safaruddin juga menitipkan sejumlah uang untuk anak sang ibu agar bisa membeli baju Lebaran.
“Biarlah ia merasakan kebahagiaan seperti anak-anak lainnya,” kata Safaruddin.
Seperti pada malam sebelumnya, rombongan sebenarnya membawa hidangan sahur dari Pendopo. Namun ketika waktu makan tiba, sesuatu yang sederhana tetapi menyentuh terjadi.
Hidangan yang dibawa justru diberikan kepada keluarga yang mereka kunjungi.
Rombongan memilih menukar makanan mereka dengan kebahagiaan keluarga tersebut.
Di rumah kecil itu, sahur menjadi lebih dari sekadar makan sebelum fajar. Ia berubah menjadi pelajaran tentang empati bahwa kadang yang paling dibutuhkan bukan sekadar bantuan, tetapi kehadiran dan kepedulian.
Bagi Safaruddin, perjalanan sahur itu meninggalkan kesan mendalam. Sebuah pengingat bahwa jabatan bukan hanya soal memimpin, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana rakyatnya hidup dan memastikan mereka tidak ditinggalkan.
Di tengah dinginnya udara sahur, harapan kecil pun lahir, agar rumah yang hampir roboh itu segera berdiri kembali, dan seorang ibu serta anaknya dapat menyambut Lebaran dengan senyum yang lebih tenang.







