Sudutpenanews.com | Aceh Barat : Bupati Aceh Barat, Tarmizi, SP, MM mengungkapkan kekecewaannya setelah Kabupaten Aceh Barat menjadi satu-satunya daerah yang tidak memperoleh tambahan dana Transfer ke Daerah (TKD) dari Pemerintah Provinsi Aceh senilai Rp824 miliar.
Menurut Tarmizi, Aceh Barat justru dikelompokkan sebagai daerah yang tidak terdampak musibah, sehingga hanya menerima tambahan dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA). Dari total penyesuaian dana DOKA provinsi sebesar Rp75 miliar yang wajib didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota, Aceh Barat hanya mendapatkan sekitar Rp1,09 miliar.
“Kami sangat terkejut. Ini perlu penjelasan terbuka. Apa indikatornya, bagaimana rumus dan aturan pembagiannya?” ujar Tarmizi, Jumat (17/4/2026) di Banda Aceh .
Ia mengaku telah mempertanyakan langsung kepada Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA), namun hingga kini belum memperoleh kejelasan yang memuaskan terkait dasar kebijakan tersebut.
Kondisi ini, kata Tarmizi, berpotensi memicu spekulasi di tengah masyarakat. Pasalnya, sebelumnya Aceh Barat juga gagal mendapatkan bantuan untuk pembangunan rumah sakit regional. Padahal, sempat ada peluang pendanaan dari peralihan dana PORA sebesar Rp80 miliar yang kemudian dibatalkan dengan alasan akan dialihkan ke skema TKD.
“Nyatanya, dana TKD pun tidak terealisasi dengan alasan tidak mendapat persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri,” tambahnya.
Tarmizi juga menyebut, sebelumnya Gubernur Aceh telah memberikan arahan agar Aceh Barat mendapatkan perhatian khusus. Namun fakta di lapangan justru berbanding terbalik.
Situasi ini memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, mulai dari dugaan adanya agenda tersembunyi hingga motif politik di balik kebijakan tersebut. Meski demikian, Tarmizi memilih untuk tidak berspekulasi lebih jauh.
“Saya tidak bisa menjawab itu. Saya memilih diam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, apalagi sampai dibenturkan dengan gubernur. Saya juga tidak ingin melaporkan hal ini karena bisa menjadi beban bagi beliau,” tegasnya.
Sebagai kepala daerah, Tarmizi menegaskan bahwa dirinya hanya fokus memperjuangkan hak Kabupaten Aceh Barat tanpa ingin terlibat dalam dinamika politik di tingkat provinsi.
“Saya sangat kecewa dan mempertanyakan keputusan ini, khususnya kepada tim TAPA. Harapan kami, ada penjelasan yang adil dan transparan,” pungkasnya.







