Sudutpenanews.com | Aceh Barat – Meulaboh tidak hanya tumbuh dari jalan, gedung, pasar, dan pusat pemerintahan. Kota ini tumbuh dari cerita manusia dari pedagang yang membuka lapak sejak pagi, nelayan yang pulang membawa hasil laut, guru yang berdiri di depan kelas, hingga keluarga sederhana yang berharap mendapatkan pelayanan pemerintah tanpa harus merasa jauh dari negara.
Memasuki momentum Hari Jadi Kota Meulaboh ke 438 yang jatuh pada 11 Oktober 2026, perjalanan pemerintahan Kabupaten Aceh Barat di bawah kepemimpinan Bupati Tarmizi, SP, MM, bersama Wakil Bupati Said Fadheil, SH, mulai meninggalkan sejumlah jejak yang dapat dilihat dari arah kebijakan hingga pelayanan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Tarmizi dan Said Fadheil resmi memimpin Aceh Barat sejak Februari 2025. Dalam perjalanannya, pemerintah daerah menyusun puluhan program prioritas yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai sektor. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mencatat 67 program prioritas yang didukung anggaran Rp167 miliar pada tahun 2025.
Namun, angka-angka tersebut hanyalah bagian pertama dari sebuah cerita. Sebab, ukuran pembangunan pada akhirnya bukan semata berapa banyak program yang tercantum dalam dokumen pemerintah, tetapi seberapa jauh program itu hadir dalam kehidupan masyarakat.
Dari Kantor Pemerintahan Menuju Rumah-Rumah Warga
Salah satu wajah kepemimpinan Tarmizi yang terlihat adalah pendekatan yang mencoba membawa pemerintah lebih dekat dengan persoalan warga. Pada Maret 2026, misalnya, Tarmizi mendatangi langsung rumah warga yang berada dalam kondisi tidak layak huni di Desa Pasi Jeut, Kecamatan Woyla Barat. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah menjanjikan bantuan dan pembangunan rumah secara permanen.
Di balik sebuah rumah yang tidak layak huni, sebenarnya ada cerita panjang tentang keluarga. Ada atap yang bocor ketika hujan turun. Ada dinding yang mungkin sudah lama menunggu diperbaiki. Ada anak-anak yang tumbuh dalam ruang yang jauh dari kata nyaman.
Karena itu, ketika seorang pemimpin datang melihat langsung kondisi rumah rakyat, nilai sebuah pembangunan menjadi lebih manusiawi. Pembangunan bukan hanya tentang beton dan besi. Pembangunan juga tentang menghadirkan rasa aman bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Kartu Sehat dan Harapan di Tengah Persoalan Kesehatan
Di sektor kesehatan, pemerintahan Tarmizi-Said juga membawa program yang menjadi salah satu identitas pemerintahannya, yakni Kartu Sehat Tarmizi-Said. Program tersebut bahkan mendapatkan penghargaan Serambi Awards 2026 sebagai pencetus Kartu Sehat Tarmizi-Said.
Di balik sebuah kartu, terdapat persoalan yang jauh lebih besar, bagaimana masyarakat mendapatkan akses kesehatan ketika kemampuan ekonomi keluarga terbatas.
Bagi sebagian warga, sakit bukan sekadar persoalan medis. Sakit bisa berarti kehilangan pendapatan, bertambahnya beban keluarga, dan munculnya kekhawatiran tentang biaya pengobatan. Karena itu, kebijakan kesehatan memiliki arti yang lebih dalam ketika mampu memberikan rasa tenang kepada masyarakat.
Pada tahun yang sama, RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh juga mencatat adanya peresmian fasilitas pelayanan kesehatan gedung baru dan penambahan alat kesehatan. Informasi tersebut tercatat dalam agregator resmi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat.
Artinya, pembangunan kesehatan tidak berhenti pada program administratif, tetapi juga menyentuh penguatan fasilitas pelayanan.
Pendidikan dan Masa Depan Anak-Anak Meulaboh
Pembangunan sebuah kota tidak akan lengkap jika hanya membangun fisik. Sebab, gedung yang megah tidak akan banyak berarti tanpa manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter.
Pada September 2026, Tarmizi memimpin peringatan Hari Pendidikan Daerah ke-67 di Aceh Barat. Dalam kesempatan tersebut, pendidikan ditegaskan sebagai salah satu fokus pembangunan.
Pendidikan adalah investasi yang hasilnya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua tahun. Hari ini, seorang anak duduk di bangku sekolah. Belasan tahun kemudian, mungkin ia menjadi guru, dokter, pengusaha, birokrat, jurnalis, ulama, petani modern, atau pemimpin daerah.
Karena itu, perhatian terhadap pendidikan sesungguhnya adalah perhatian terhadap wajah Meulaboh pada masa depan.
Pasar, Ekonomi, dan Kehidupan Rakyat Kecil
Meulaboh juga hidup dari denyut ekonomi masyarakat. Pasar Bina Usaha, pasar ikan, pasar daging, dan pusat perdagangan bukan sekadar tempat transaksi. Di sana terdapat kehidupan ribuan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi sehari-hari.
Pemerintah Aceh Barat pada Maret 2026 menggelar operasi pasar di Pasar Bina Usaha Meulaboh menjelang Idulfitri. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keterjangkauan kebutuhan masyarakat pada momentum meningkatnya permintaan.
Di sisi lain, data pemerintah menunjukkan realisasi investasi Aceh Barat sepanjang 2025 mencapai Rp764,79 miliar. Investasi tersebut menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi daerah yang berlangsung di tengah periode awal pemerintahan Tarmizi-Said.
Pembangunan ekonomi pada akhirnya harus bertemu dengan kehidupan masyarakat.
Sebab, pertumbuhan ekonomi yang paling mudah dirasakan bukan hanya angka investasi, tetapi ketika pedagang bisa berjualan, nelayan dapat melaut, petani memperoleh pasar, dan anak muda mendapatkan kesempatan bekerja.
Meulaboh Tidak Hanya Dibangun dengan Proyek
Ada kecenderungan melihat keberhasilan sebuah pemerintahan hanya dari apa yang terlihat secara fisik. Jalan yang selesai. Gedung yang berdiri. Taman yang dibangun. Lampu yang menyala.
Tetapi, pemerintahan juga bekerja dalam sesuatu yang tidak selalu terlihat kamera.
Data kependudukan yang dibenahi. Pelayanan kesehatan yang diperkuat. Anak yatim yang disantuni. Rumah warga yang diperhatikan. Pasar yang dijaga. Sekolah yang diperkuat. Dan aparatur yang dituntut menerjemahkan program menjadi kerja yang konkret dan terukur.
Pemerintah Aceh Barat pada 2026 juga menekankan agar program diterjemahkan ke dalam langkah kerja yang konkret, terukur, dan berdampak bagi masyarakat.
Pada Maret 2026, misalnya, Baitul Mal Aceh Barat menyalurkan santunan kepada 1.645 anak yatim dengan total Rp822 juta menjelang Idulfitri.
Angka itu mungkin hanya terlihat sebagai statistik. Tetapi, bagi seorang anak yatim, bantuan tersebut bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar: merasa bahwa dirinya masih diperhatikan.
Di HUT Meulaboh, Apa yang Akan Dikenang?
Setiap pemerintahan pada akhirnya akan meninggalkan catatan. Ada kebijakan yang mungkin dilupakan. Ada proyek yang suatu hari menjadi bagian biasa dari kehidupan kota. Ada program yang terus berkembang. Dan ada keputusan yang mungkin dikenang karena pernah menyentuh kehidupan seseorang.
Itulah sebabnya, momentum HUT Kota Meulaboh ke 438 tahun 2026 menjadi lebih dari sekedar perayaan bertambahnya usia sebuah kota. Ia menjadi ruang untuk bertanya, Apa yang telah berubah? Apa yang telah dibangun? Siapa yang sudah merasakan manfaatnya? Dan pekerjaan rumah apa yang masih menunggu untuk diselesaikan?
Di bawah kepemimpinan Tarmizi-Said, sejumlah program dan kebijakan telah diletakkan. Mulai dari 67 program prioritas, Kartu Sehat, penguatan fasilitas kesehatan, perhatian terhadap rumah tidak layak huni, pendidikan, hingga intervensi terhadap kebutuhan masyarakat.
Tetapi, perjalanan sebuah pemerintahan tidak berhenti pada satu tahun perayaan. Meulaboh masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Masih ada warga yang menunggu rumah yang lebih layak.
Masih ada jalan yang membutuhkan perhatian. Masih ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan berkualitas. Masih ada keluarga yang membutuhkan akses kesehatan. Dan masih ada pelaku usaha kecil yang berharap pemerintah terus menjaga ruang hidup mereka.
Karena pada akhirnya, sejarah sebuah kota tidak hanya ditulis oleh gedung-gedung yang berdiri. Sejarah ditulis oleh perubahan yang dirasakan manusia.
Dan mungkin, kelak ketika HUT Kota Meulaboh kembali diperingati bertahun-tahun dari sekarang, yang paling diingat bukanlah berapa banyak seremoni yang pernah digelar. Melainkan, apakah pada masa itu rakyat pernah merasa lebih dekat dengan pemerintah? Apakah mereka pernah merasa didengar? Apakah mereka pernah merasa dibantu? Dan apakah kehidupan mereka benar-benar menjadi sedikit lebih baik?.
Di situlah sesungguhnya makna pembangunan. Di situlah kepemimpinan diuji. Dan di sanalah sebuah kota meninggalkan jejaknya kepada generasi berikutnya.
Penulis : Redaksi Sudutpenanews.com






