Aceh Barat | Sudutpenanews.com – Ketua Umum Organisasi Jaringan Nanggroe Keu Asoe Revolusi (JANGKAR) sekaligus aktivis nelayan Aceh Barat, Deni Irsandi, mengapresiasi langkah konkret PT Mifa Bersaudara yang telah merealisasikan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) untuk penanganan pendangkalan muara di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan.
Menurut Deni, pendangkalan muara selama ini menjadi persoalan serius yang meresahkan para nelayan Aceh Barat. Pasalnya, muara tersebut merupakan jalur alternatif utama yang digunakan nelayan untuk keluar-masuk melaut.
“Langkah PT Mifa Bersaudara patut diapresiasi. Kegiatan pendalaman muara ini sangat bermanfaat dan diharapkan nelayan bisa kembali beroperasi seperti sediakala,” ujar Deni dalam keterangan tertulisnya kepada media, Sabtu (20/12/2025).
Ia berharap, dengan adanya normalisasi muara, aktivitas nelayan dapat kembali berjalan normal. Hal ini dinilai penting karena berdampak langsung terhadap pemulihan ekonomi daerah, khususnya pada sektor perikanan dan kelautan di Aceh Barat.
“jika nelayan sudah normal kembali, maka fiskal dan perputaran ekonomi daerah juga akan pulih, terutama di sektor perikanan dan kelautan,” jelasnya.
Namun demikian, Deni juga menyoroti pelaksanaan teknis kegiatan pendalaman muara yang dinilainya belum maksimal. Ia menyebutkan adanya kekurangan perhatian dan koordinasi dari pihak pelaksana atau kontraktor yang mengkoordinir kegiatan tersebut, sehingga hasil pendalaman belum sesuai dengan harapan nelayan yang telah disepakati.
“Secara teknis, pekerjaan belum menyentuh titik permasalahan utama. Pendalaman hanya dilakukan di pinggiran alur sungai dan ujung muara, padahal titik-titik penyebab utama kedangkalan sudah kami tandai dan sepakati bersama nelayan,” ungkapnya.
Deni menjelaskan, kesepakatan tersebut sebelumnya telah dibahas dalam diskusi bersama nelayan dan audiensi yang turut dihadiri unsur Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK). Dalam pertemuan itu, perwakilan nelayan secara langsung menunjuk dirinya untuk mengawal pelaksanaan rencana dan teknis pekerjaan di lapangan.
“Akibat tidak dijalankannya kesepakatan teknis tersebut, pekerjaan pendalaman muara menjadi tidak maksimal,” katanya.
“kita tidak mau setelah PT Mifa cukup peduli dan sudah berbuat banyak untuk kemajuan di Aceh Barat seperti pengerukan Muara Krueng Cangkoi ini, masih ada oknum-oknum yang bermain dalam kepentingan lainnya tanpa melibatkan para nelayan yang berada di Johan Pahlawan yang memang tau titik-titik penyebab utama kedangkalan yang sudah ditandai dan sepakati bersama nelayan beberapa waktu lalu.”jelas Deni.
Ke depan, Deni menilai perlu dilakukan evaluasi menyeluruh agar normalisasi muara dapat dipermanenkan dan tidak kembali mengalami pendangkalan yang sama.







