Sudutpenanews.com | Aceh Barat – Bupati Aceh Barat, Tarmizi, melontarkan peringatan keras terkait meningkatnya kasus penyakit kronis di masyarakat, khususnya gangguan ginjal yang kini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga mulai ditemukan pada usia yang semakin muda.
Pernyataan itu disampaikan Tarmizi saat meresmikan sejumlah fasilitas medis baru serta operasional Kamar Rawat Inap Standar (KRIS) di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Senin (2/6). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa persoalan kesehatan di Aceh Barat tidak bisa lagi hanya diselesaikan dengan menambah ruang rawat atau memperbanyak pengobatan, tetapi harus dimulai dari perubahan pola hidup masyarakat.
Menurutnya, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, makanan olahan, minuman kemasan, serta kebiasaan mengonsumsi obat tanpa pengawasan tenaga medis menjadi ancaman serius yang harus segera disadari masyarakat.
“Setiap tahun angka orang sakit terus meningkat. Kita harus berani melihat apa penyebabnya. Pola hidup yang tidak sehat, makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari, serta kebiasaan membeli obat tanpa resep dokter menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan,” kata Tarmizi.
Ia menyoroti maraknya konsumsi minuman kemasan dan makanan instan yang menurutnya semakin akrab dengan kehidupan anak-anak. Kondisi itu dinilai menjadi alarm bagi semua pihak untuk lebih serius mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
Dalam pidatonya, Tarmizi juga mengkritik pola penanganan kesehatan yang selama ini lebih banyak berfokus pada pengobatan setelah masyarakat jatuh sakit.
“Kalau kita hanya fokus mengobati, rumah sakit sebanyak apa pun tidak akan pernah cukup. Yang harus diperkuat adalah pencegahan. Masyarakat harus diedukasi agar hidup sehat sebelum sakit datang,” tegasnya.
Selain menyoroti pola hidup masyarakat, Bupati Aceh Barat juga menegaskan perlunya pembenahan budaya pelayanan di rumah sakit. Ia meminta seluruh tenaga kesehatan meningkatkan disiplin dan kualitas pelayanan kepada pasien.
Sebagai bentuk penghargaan, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berencana memberangkatkan umrah tenaga medis dan pegawai yang menunjukkan dedikasi serta kinerja terbaik. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa pegawai yang tidak mampu menjalankan tugas secara profesional akan dievaluasi.
“Kita ingin yang terbaik diberikan penghargaan. Yang menjadi teladan harus diberikan motivasi. Sebaliknya, yang tidak menjalankan tugas dengan baik juga harus dievaluasi. Rumah sakit tidak boleh lagi bekerja dengan pola lama,” ujarnya.
Tarmizi juga mengumumkan kebijakan pembatasan jam kunjungan pasien di rumah sakit. Menurutnya, banyaknya pengunjung justru sering menghambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko penularan penyakit.
Ia mencontohkan pengalaman selama pandemi COVID-19 ketika sejumlah pasien yang awalnya dirawat karena penyakit lain justru terpapar virus akibat tingginya mobilitas pengunjung.
“Kita menjenguk pasien karena rasa peduli, tetapi kadang tanpa sadar membawa penyakit. Pasien membutuhkan istirahat dan lingkungan yang aman untuk proses penyembuhan,” katanya.
“Ini langkah untuk memastikan masyarakat Aceh Barat mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan lebih mandiri. Demi kepentingan rakyat, tidak ada tantangan yang membuat kita mundur,” tegas Tarmizi.
Di akhir sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan kesehatan sebagai gerakan bersama melalui olahraga rutin, pola makan sehat, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Menurutnya, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh rumah sakit, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan diri dan keluarganya.






