Sudutpenanews.com | Aceh Jaya : Upaya melestarikan warisan adat dan budaya terus digaungkan di berbagai pelosok Aceh. Di Gampong Panggong, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, harapan itu kembali tumbuh melalui kebangkitan seni tradisi Piasan Indatu Rapai Debus, sebuah warisan leluhur yang sempat lama meredup.
Inisiatif pelestarian ini mendapat dukungan langsung dari Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, yang mendorong generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya mereka. Melalui pembinaan terhadap komunitas Petani Muda Milenial Aceh, upaya menjaga identitas lokal kini mulai menemukan momentumnya.
Kegiatan pelestarian tersebut digelar dengan melibatkan masyarakat setempat, tokoh adat, serta generasi muda yang antusias mempelajari kembali seni tradisi yang sarat nilai sejarah dan spiritual itu. Dentuman rapai dan atraksi debus yang dahulu menjadi simbol kekuatan dan kebersamaan, kini kembali menggema di tengah masyarakat.
Ketua Petani Muda Milenial Aceh, M. Khaisar, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap jati diri masyarakat Aceh.
“Piasan Indatu Rapai Debus ini bukan hanya hiburan, tapi warisan yang mengandung nilai keberanian, spiritualitas, dan kebersamaan. Kami ingin generasi muda mengenal, mencintai, dan menjaga budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Khaisar.
Ia menambahkan, dukungan Kapolda Aceh menjadi energi besar bagi komunitasnya untuk terus bergerak di tengah tantangan modernisasi yang kerap menggerus budaya lokal.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan Bapak Kapolda Aceh. Ini bukan hanya tentang budaya, tapi juga tentang membangun karakter generasi muda agar tetap berakar pada nilai-nilai luhur,” tambahnya.
Kehadiran seni Piasan Indatu Rapai Debus di tengah masyarakat Gampong Panggong seolah menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan napas kehidupan yang harus terus dijaga dan diwariskan.
Di tengah arus globalisasi yang kian deras, langkah kecil dari sebuah desa di Aceh Jaya ini menjadi bukti bahwa semangat menjaga identitas tidak pernah padam selama masih ada kepedulian, dan selama generasi muda bersedia berdiri di garda terdepan untuk melestarikannya.






