Aceh Barat | Sudutpenanews.com – Dua perwakilan masyarakat Meulaboh, Maulana Ridwan Raden dan Mullah Oges Cabucci, menggelar audiensi dengan Manajer PLN UP3 Meulaboh, Achmad Ariansyah, pada Senin. Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor PLN UP3 Meulaboh dan dihadiri jajaran pimpinan setempat.
Audiensi digelar menyusul pemadaman listrik berkepanjangan di sejumlah wilayah Meulaboh yang dinilai terjadi tanpa pemberitahuan resmi dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Dalam pertemuan itu, Mullah Oges Cabucci mempertanyakan kebijakan pemadaman listrik yang disebut tidak disertai informasi yang jelas kepada warga. Ia menilai pola pemadaman yang disampaikan pihak PLN, yakni dua hari padam dan satu hari menyala, tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Faktanya, listrik mati berhari-hari tanpa kepastian. Kondisi ini sangat merugikan masyarakat,” ujar Oges dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/12/2025).
Ia mengusulkan agar PLN menyusun jadwal pemadaman listrik secara rinci per desa dan mengumumkannya secara terbuka agar masyarakat memperoleh kejelasan.
Sementara itu, Maulana Ridwan Raden menyatakan masyarakat memahami kondisi bencana dan risiko kerja petugas PLN di lapangan. Namun demikian, ia menyoroti adanya perbedaan penanganan pemadaman listrik di sejumlah daerah.
“Kami memahami situasi bencana dan tidak menuntut listrik menyala setiap hari. Kami juga menyadari petugas PLN bekerja dalam risiko tinggi,” kata Maulana.
Ia membandingkan penanganan pemadaman listrik di wilayah lain seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang dinilainya berlangsung lebih cepat dan terkoordinasi. Menurutnya, kondisi di Aceh, khususnya Meulaboh, memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait keadilan layanan.
Selain itu, Maulana juga menilai PLN belum menunjukkan empati yang memadai terhadap warga terdampak. Ia menyebut tidak adanya fasilitas listrik darurat, seperti tempat pengisian daya atau akses internet, selama pemadaman berlangsung.
“Beberapa perusahaan lain menyediakan fasilitas darurat bagi masyarakat. PLN sebagai penyedia listrik belum menghadirkan fasilitas serupa,” ujarnya.
Maulana kembali menegaskan bahwa tuntutan masyarakat bukan meminta listrik menyala setiap hari, melainkan kejelasan jadwal pemadaman dan komunikasi resmi kepada publik.
Menanggapi hal tersebut, Manajer PLN UP3 Meulaboh Achmad Ariansyah menyatakan pihaknya menerima usulan penyusunan teknis roster pemadaman serta perbaikan sistem komunikasi kepada masyarakat. Ia menyebut langkah awal akan mulai dilakukan paling lambat pada hari berikutnya.
Sebagai penutup audiensi, perwakilan masyarakat menyerahkan “Bingkisan Celana Dalam” kepada PLN UP3 Meulaboh sebagai simbol kekecewaan warga terhadap kinerja dan empati perusahaan selama masa pemadaman listrik.







