Sudutpenanews.com | Aceh Barat : Perjalanan Persabar Aceh Barat di panggung Liga 4 PSSI Aceh musim 2025–2026 harus berakhir lebih cepat dari harapan. Tiga pertandingan di Blang Paseh, Sigli, Kabupaten Pidie, tanpa satu pun kemenangan, menjadi penutup kisah yang jauh dari bayangan indah para pendukung setianya.
Di balik hasil yang mengecewakan, tersimpan cerita tentang perjuangan, harapan, dan pelajaran yang tak ternilai. Bagi masyarakat Aceh Barat, Persabar bukan sekedar tim sepak bola ia adalah simbol kebanggaan, tempat mimpi-mimpi anak daerah disemai dan diuji di lapangan hijau.
Ketua Harian Persabar, Zulkifli Andi Govi, dengan nada penuh kejujuran dan kerendahan hati, menyampaikan permohonan maaf kepada publik.
“Mewakili manajemen, kami meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Barat. Apa yang kami raih musim ini belum mampu memenuhi harapan,” ujar dekjol.
Ia tidak menutupi kenyataan pahit yang harus dihadapi. Kekalahan telak 9-0 dari PSGL Gayo Lues menjadi pukulan berat, disusul hasil kurang memuaskan saat menghadapi PSAP Pidie dan PSAB Aceh Besar. Tiga laga itu, menurutnya, adalah cermin nyata dari banyak hal yang harus diperbaiki.
“Kami akui, ini seperti mimpi buruk. Tapi justru dari sini kami belajar. Ini akan jadi bahan evaluasi besar untuk membangun tim yang lebih kuat ke depan,” katanya.
Namun, di tengah kekecewaan, Dekjol memilih untuk tidak larut dalam penyesalan. Ia melihat kegagalan ini sebagai pijakan awal untuk bangkit. Baginya, sepak bola bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang proses panjang membentuk karakter, disiplin, dan mental bertanding.
Ia bahkan mengingatkan bahwa dalam dunia sepak bola, kekalahan telak bukanlah akhir dari segalanya. Banyak tim besar pernah terpuruk sebelum akhirnya bangkit dan menjadi kuat.
“di Liga Dua, Sriwijaya pernah dihajar 15 – 0 sama Adhiyaksa Jadikan pengalaman, main dgan hati dan untuk diri sendiri buat adek-adek generasi Persabar”imbuhnya.
Pesan paling dalam ia tujukan kepada para pemain muda Persabar generasi yang memikul harapan masa depan klub.
“Jangan bergadang malam, jaga disiplin, fokus latihan. Kalian ini masa depan Persabar. Banyak kesempatan dan event ke depan yang harus kalian siapkan dari sekarang,” pesannya.
Kata-kata itu bukan sekedar nasihat, tetapi juga bentuk kepercayaan bahwa di balik hasil buruk hari ini, ada potensi besar yang belum sepenuhnya tergali.
Ia menegaskan, manajemen telah berupaya semaksimal mungkin dalam keterbatasan yang ada. Dukungan, fasilitas, dan semangat telah diberikan, meski diakui belum sempurna.
“Kami sudah berusaha semampu kami untuk memberikan yang terbaik. Tapi perjalanan sepak bola ini masih panjang. Ini bukan akhir, justru awal untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, apresiasi disampaikan kepada seluruh elemen tim, pemain, pelatih, dan ofisial yang telah berjuang membawa nama Persabar hingga ke titik ini. Tidak mudah berdiri di lapangan membawa harapan satu daerah, dan setiap tetes keringat yang telah jatuh tetap layak dihargai.
Kegagalan Persabar musim ini memang menyisakan luka bagi para pendukung. Namun, dari luka itu pula lahir kesadaran untuk berbenah. Sepak bola selalu memberi ruang bagi harapan baru tentang kerja keras yang belum selesai, tentang mimpi yang belum padam.
Di Sigli, langkah Persabar mungkin terhenti. Tapi di Aceh Barat, harapan itu masih hidup menunggu untuk kembali diperjuangkan, dengan semangat yang lebih kuat dan tekad yang tak lagi goyah.






