Di Malam Takbir, Bupati Tarmizi Menyapa Luka yang Terlupa

Sudutpenanews.com | Aceh Barat : Malam takbir selalu identik dengan kebahagiaan. Gema suara takbir berkumandang dari masjid ke masjid, anak-anak berlarian membawa obor, dan keluarga berkumpul menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh suka cita.

Namun, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Arongan, suasana justru berbeda. Tidak ada tawa, tidak ada persiapan lebaran. Yang ada hanya kesunyian panjang yang ditemani suara napas berat seorang lelaki yang terbaring lemah Abu Bakar, atau yang akrab disapa Ngoh Baka. Dulu ia dikenal sebagai sosok kuat, mantan kombatan GAM yang tegar. Kini, tubuhnya tak lagi mampu berdiri.

Saat gema takbir mulai terdengar dari kejauhan, matanya hanya menatap kosong ke langit-langit rumah. Malam kemenangan bagi banyak orang, justru menjadi malam penuh kesedihan baginya.

Hari itu, Jum’at (20/3/2026) , Bupati Aceh Barat, Tarmizi, datang menjenguk. Ia tidak datang dengan kemewahan, melainkan dengan kepedulian. Di sisi ranjang, ia menyapa pelan, mencoba menguatkan hati yang tengah diuji. Di tengah keterbatasan kondisi, kehadiran itu menjadi secercah harapan bahwa masih ada yang peduli.

Langkah kemudian berlanjut ke rumah-rumah warga yang baru saja diterpa musibah. Angin kencang yang datang sore sebelumnya merobohkan atap-atap rumah. Kayu-kayu patah berserakan, seng beterbangan, dan beberapa keluarga kini harus bertahan di rumah yang tak lagi utuh.

Di saat banyak orang sibuk menyiapkan baju baru dan hidangan khas lebaran, mereka justru sibuk mengumpulkan sisa-sisa kehidupan yang tersisa. Anak-anak duduk diam, sementara orang tua berusaha tegar di tengah kenyataan pahit. Tak ada yang menyangka, sehari menjelang hari raya, ujian datang begitu tiba-tiba.

Di tengah puing-puing itu, Bupati Tarmizi hadir, menyapa satu per satu warga. Memberikan semangat agar mereka tidak tenggelam dalam kesedihan. Bantuan mungkin tidak bisa menghapus luka seketika, tetapi kepedulian mampu menghangatkan hati yang dingin oleh cobaan.

“Jangan merasa sendiri,” menjadi pesan yang ingin disampaikan melalui kehadiran itu.

Malam takbir terus bergema. Di satu sisi membawa kebahagiaan, di sisi lain menjadi pengingat bahwa tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama.

Kisah-kisah seperti ini sering luput dari perhatian. Padahal, di balik kemeriahan Hari Raya, ada air mata yang diam-diam jatuh. Ada hati yang berjuang untuk tetap kuat saat dunia di sekitarnya merayakan kemenangan.

Mungkin, inilah makna Idul Fitri yang sesungguhnya bukan hanya tentang kembali ke fitrah, tetapi juga tentang membuka mata dan hati, untuk saling menguatkan di tengah duka.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *