“Zulkifli Andi Govi” Dekjol : Menyalakan Cahaya dari Jalan Panjang Kehidupan

Sudutpenanews.com | Aceh Barat : Ada perjalanan hidup yang dimulai dengan tepuk tangan. Namun ada pula yang dimulai dari kesunyian, keterbatasan, dan keputusan sederhana seorang anak kampung untuk terus berjalan meski tidak pernah tahu akan sampai di mana.

Zulkifli Andi Govi, yang akrab disapa Dekjol, memilih jalan yang kedua.

Jauh sebelum namanya dikenal dalam organisasi kepemudaan, sepak bola, Pramuka, pendidikan, dunia usaha, kegiatan sosial maupun keagamaan, ia hanyalah seorang anak dari kampung di Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat.

Sebuah daerah yang juga dikenal sebagai tanah tempat pahlawan nasional Teuku Umar dimakamkan, disanalah perjalanan itu dimulai.

Di kampung itu pula ia menempuh pendidikan dasar hingga menyelesaikan sekolah dasar di SD Negereri Meutulang, Tidak ada panggung besar. Tidak ada jabatan. Tidak ada sorotan.

Hanya seorang anak kampung yang perlahan belajar bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang diinginkan, tetapi selalu menyediakan pilihan: menyerah atau terus berjalan.

Dari Panton Reu, langkahnya kemudian berlanjut ke Meulaboh, Ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 3 Meulaboh. Setelah itu, ia memilih tinggal di Pesantren Darusa’adau Gampong Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, hingga menyelesaikan pendidikan di MAN 1 Aceh Barat. Masa-masa itu menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya.

Pendidikan tidak hanya memberinya pengetahuan, tetapi juga memperkenalkannya pada kehidupan yang lebih luas.

Dari lingkungan kampung, ia mulai mengenal dunia luar. Dari pesantren, ia belajar tentang nilai kehidupan. Dari sekolah, ia belajar tentang cita-cita Dan dari perjalanan itulah muncul keinginan untuk melanjutkan pendidikan lebih jauh.

Anak kampung yang memilih menjadi anak rantau

Setelah menyelesaikan pendidikan di Aceh Barat, Zulkifli kemudian merantau ke Banda Aceh. Ia diterima di Unsyiah, Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi, bagi seorang anak kampung dari Panton Reu, keberangkatan ke Banda Aceh bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, itu adalah perpindahan dunia.

Di Banda Aceh, ia harus belajar berdiri di atas kaki sendiri dan itulah amanah dan pesan yang selalu ditanamkan oleh abangnya, “ Dan menariknya, kehidupan sebagai anak rantau itu tidak ia jalani hanya dengan kuliah,sejak semester pertama, ia sudah mencoba berbisnis, Bisnis pertamanya sangat sederhana, menjual pulsa dengan Teman-teman, pelanggan mulai dari teman kampus hingga Dosen-dosen juga menjadi pelanggan.

Dari sesuatu yang kecil itu, tumbuh keberanian untuk mencoba sesuatu yang lebih besar, ia kemudian bersama-sama membangun kios di Banda Aceh. Namun kehidupan bisnis tidak selalu memberikan cerita indah, kios yang dibangun dengan susah payah itu dibobol maling, kerugian datang, usaha pun akhirnya bubar.

Bagi sebagian orang, kehilangan usaha mungkin cukup untuk membuat langkah berhenti, tetapi bagi Dekjol, kegagalan itu justru menjadi bagian dari sekolah kehidupan, Ia belajar bahwa menjadi pengusaha bukan sekadar berbicara tentang keuntungan, ada risiko, ada kerugian, Ada kehilangan Dan ada kewajiban untuk kembali berdiri,

Melawan pengangguran dari bangku kuliah

Di tengah perjalanan sebagai mahasiswa, Dekjol mulai menemukan satu gagasan yang kemudian menjadi salah satu prinsip yang terus dibawanya hingga sekarang, menjadi pengusaha, bukan semata-mata agar dirinya mendapatkan pekerjaan akan tetapi agar suatu hari dapat membuka pekerjaan untuk orang lain.

Ia pernah menuangkan gagasan tersebut dalam sebuah tulisan opini di media online serambi sekitar Tahun 2012, baginya, kuliah seharusnya tidak berakhir hanya dengan menambah daftar pencari kerja. Ia justru ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan lapangan pekerjaan.

Cita-cita itu kemudian ia coba wujudkan, pada 2014, ia mendirikan usaha Melborn Group “ Kumpulan anak muda meulaboh “ yang mau bisnis bersama di Gampong Gunung Kleng, Kecamatan Meureubo, dengan konsep ada cafe, ada jasa pemasangan wifi dan cctv, hingga menerima pesanan barang online dengan tatget konsumen mahasiswa di Aceh Barat, Namun lagi-lagi, perjalanan bisnis tidak berjalan sesuai harapan, usaha tersebut akhirnya hancur total, tidak bertahan setahun, usaha melborn group hancur berkeping keping hingga bangkrut total.

Mimpi yang dibangun dengan penuh keyakinan harus berhadapan dengan kenyataan. Tetapi kegagalan kedua itu tidak menghapus cita-cita, justru semakin mempertebal keyakinannya bahwa usaha harus terus dicoba. Ia kembali berangkat merantau ke Banda Aceh, kemudian kembali berlajar melanjutkan studi Pasca Sarjana di UIN Ar-Raniry, Ia kemudian fokus mengikuti berbagai pelatihan bisnis, bahkan pengalaman bisnis membawanya mengikuti pelatihan bisnis internasional di tiga negara, Singapura, Malaysia dan Thailand.

Bagi seorang anak kampung yang dahulu berangkat merantau dari Aceh Barat, pengalaman tersebut tentu bukan perjalanan kecil, namun perjalanan itu tidak membuatnya lupa dari mana ia berasal, justru semakin memperkuat keinginannya untuk suatu hari membangun sesuatu di tanah kelahirannya sendiri.

Mimpi besar itu bernama rumah makan,

Ada satu mimpi yang pernah lama disimpan Dekjol, Memiliki rumah makan besar di Meulaboh, mimpi tersebut bahkan pernah dipresentasikannya di depan Bapak Doktor Iskandarsyah majid, waktu itu wakil dekan 3 tahun 2010, bahkan ia juga presentasi di forum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Jambore HIPMI di Bandung sekitar tahun 2014, mungkin saat itu banyak orang hanya melihatnya sebagai sebuah gagasan.

Sebuah presentasi dan Sebuah cita-cita ia pilih tanpa sengaja lokasinya adalah di suak ribe dekat jembatan. Tetapi bagi Dekjol, mimpi itu adalah sesuatu yang harus diwujudkan, tepatnya tahun 2022, mimpi tersebut mulai menjadi kenyataan, berdirilah Rumah Makan Meulaboh, sebagai tempat wisata kuliner yang sangat srategis di Aceh Barat, bahkan rumah makan tersebut tepat ia dirikan ditempat yang ia impikan, di Suak Ribe.

Di situlah salah satu bagian penting dari perjalanan bisnis seorang anak rantau menemukan titik baliknya, mimpi yang pernah dipresentasikan jauh dari tanah kelahiran akhirnya kembali ke Meulaboh, bukan dalam bentuk cerita,Tetapi dalam bentuk usaha nyata.

Dan dari sana, prinsip yang sejak awal diperjuangkannya tentang kewirausahaan menemukan bentuk yang lebih konkret, menciptakan ruang usaha sekaligus membuka peluang bagi orang lain.

Dari mencari penghasilan menuju mencari kebermanfaatan

Namun perjalanan Dekjol tidak pernah berhenti di dunia bisnis. Ketika kuliah, ia sangat aktif dalam organisasi, ia pernah menjadi Ketua HMI di Universitas Syiah Kuala, ia juga dipercaya menjadi Ketua IPELMABAR periode 2013–2015.

IPELMABAR menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan kepemimpinannya,disana ia belajar bahwa memimpin bukan hanya tentang berbicara di depan orang banyak. Memimpin adalah tentang mendengar, tentang merangkul, tentang menyelesaikan persoalan dan Tentang membangun kepercayaan.

Pengalaman organisasi tersebut kemudian membawanya ke berbagai ruang lain, ia tercatat dalam aktivitas KAHMI, KNPI, HIPMI dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya.

Dalam perjalanan di KNPI Banda Aceh, namanya tercatat sebagai Sekretaris Jenderal DPD KNPI Kota Banda Aceh periode 2020–2023, mendampingi Ketua DPD KNPI Banda Aceh Aulia Rahman, dunia organisasi perlahan menjadi bagian dari kehidupannya, dari mahasiswa, ia tumbuh menjadi penggerak pemuda.

Ketika kehilangan justru mengajarkan arti memberi

Ada satu sisi perjalanan Dekjol yang mungkin tidak banyak terlihat dari jabatan dan aktivitas organisasinya Kehidupan sosial, pada 2017, ia pernah mendapatkan hadiah umrah dari Komunitas Solidaritas Duafa Aceh yang dipimpin Ustaz Akmal Hanif.

Bagi Dekjol, pengalaman tersebut menjadi bagian yang sangat berkesan dalam perjalanan hidupnya, sebab keberhasilan dalam hidup tidak selalu diukur dengan apa yang dimiliki, ada keberhasilan yang datang melalui hubungan dengan sesama manusia, ada pula kebahagiaan yang lahir ketika seseorang merasa dihargai atas apa yang telah dilakukan.

Dari titik itu, kegiatan sosial semakin menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, ia tidak hanya ingin tumbuh untuk dirinya sendiri, ia ingin agar pertumbuhan itu juga memberikan manfaat bagi orang lain.

Melborn dan ruang bagi generasi muda

Semangat tersebut kemudian menemukan ruang lain melalui Melborn Group, dalam sejumlah pemberitaan dan dokumen penelitian, Zulkifli disebut sebagai pimpinan atau Ketua Umum Melborn Group.

Melborn menjadi salah satu ruang yang mempertemukannya dengan dunia pendidikan dan pembinaan pelajar.

Pada 2021, Melborn Pelajar menggelar Training Kepemimpinan dan Organisasi ke-8 yang diikuti sekitar 60 pelajar SMA se-Aceh Barat, Dekjol hadir membuka kegiatan tersebut, berbagai training terus ia lakulan demi kemajuan anak Aceh Barat, baik dibidang pendidikan maupun bisnis.

Dua tahun kemudian, pada 2023, ia kembali hadir dalam kegiatan Melborn Pelajar ketika melantik Ilham Hubban sebagai Ketua Umum Melborn Pelajar Aceh Barat.

Pesan yang disampaikannya sederhana, pelajar harus fokus belajar, harus mempersiapkan kualitas dan mental,tidak boleh malas, tidak mudah menyerah Dan yang paling penting, berusaha menjadi manusia yang bermanfaat.

Jika ditarik kembali ke perjalanan hidupnya, pesan itu terasa bukan sekedar pidato, ia seperti sedang menyampaikan pengalaman hidupnya sendiri kepada generasi setelahnya.

Sebab ia tahu bagaimana rasanya memulai dari sesuatu yang kecil, ia tahu bagaimana rasanya gagal, ia tahu bagaimana rasanya kehilangan Dan ia juga tahu bahwa seseorang tidak boleh berhenti hanya karena pernah jatuh.

Ketika organisasi diuji oleh perbedaan

Pada Agustus 2023, nama Dekjol kembali muncul dalam dinamika Musyawarah Daerah KNPI Aceh Barat, ia merupakan salah satu calon Ketua KNPI Aceh Barat.

Namun ketika forum mengalami kericuhan, ia memilih mengajak pendukungnya keluar dari forum, dalam pemberitaan yang muncul saat itu, ia menyampaikan bahwa niat awalnya maju sebagai Ketua KNPI adalah untuk mempersatukan pemuda Aceh Barat,sebuah jabatan tidak selalu harus berakhir dengan jabatan, ada kalanya seseorang memilih mundur dari sebuah situasi demi menjaga hubungan yang lebih besar.

Bagi Dekjol, dunia kepemudaan seharusnya menjadi tempat bertemu, bukan tempat saling menjauh.

Sepak bola dan mimpi tentang anak-anak Aceh Barat

Jika organisasi adalah salah satu jalan pengabdiannya, sepak bola adalah jalan lain yang sangat dekat dengannya, kecintaannya terhadap sepak bola telah tumbuh sejak kecil.

Pengalamannya mendampingi Nazaruddin Dek Gam ketika menjabat sebagai Presiden Persiraja juga memberi pengalaman tersendiri tentang bagaimana sebuah klub dikelola, bagaimana visi dibangun, bagaimana pemain dimotivasi dan bagaimana sebuah tim harus diperjuangkan, pengalaman itu kemudian dibawa ketika ia dipercaya menjadi manajer tim Pra PORA Aceh Barat.

Pada Juli 2025, Aceh Barat berhasil menundukkan Nagan Raya 2–1 di Stadion Blang Pase, Sigli,hasil itu memastikan Aceh Barat memperoleh tiket menuju PORA 2026 di Aceh Jaya, dibalik perjalanan tim tersebut, Dekjol tidak hanya hadir sebagai pengurus, ia turun ke lapangan, berkomunikasi dengan pemain, mendampingi latihan, memastikan kebutuhan tim dan ikut menjaga mental para pemain.

Salah satu keputusan yang sempat menjadi perhatian adalah ketika ia menunjuk Wahyu AW sebagai pelatih kepala, waktu kemudian memberikan jawaban di lapangan, Aceh Barat lolos ke PORA. Bagi Dekjol, keberhasilan tersebut bukan sekadar tiket pertandingan, ia melihatnya sebagai bagian dari upaya membangkitkan kembali sepak bola Aceh Barat, bahwa anak-anak daerah juga memiliki kemampuan, yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pembinaan dan pengelolaan yang serius.

Dari PORA menuju PERSABAR

Perjalanan itu kemudian berlanjut ke PERSABAR, pada Oktober 2025, Zulkifli Andi Govi dipercaya sebagai Ketua Harian PERSABAR.

Manajemen kemudian memanggil delapan pemain muda yang sebelumnya memperkuat tim PORA Aceh Barat untuk dipersiapkan menghadapi Liga 4 Indonesia, Adil, Zafi, Risky, Arief, Fathir, Febri,Alif Dan Fardhan.

Mereka adalah generasi muda yang sedang dibawa menuju panggung yang lebih besar, namun gagasan Dekjol tidak berhenti pada kompetisi.

Ada visi membangun pembinaan berkelanjutan, mendirikan akademi, membangun kerja sama dengan sekolah,menghadirkan pelatih berlisensi Dan mempersiapkan pemain sejak usia dini.

Bagi Dekjol, lapangan sepak bola bukan sekadar tempat mengejar kemenangan, Lapangan adalah sekolah, Di sana anak-anak belajar disiplin, Belajar menerima kekalahan, Belajar menghormati lawan, Belajar bekerja sama Dan belajar percaya kepada kemampuan diri sendiri.

Pramuka dan pendidikan karakter

Jalan pengabdian Dekjol juga bersentuhan erat dengan Gerakan Pramuka. Ia tercatat sebagai Ketua Harian Kwarcab Pramuka Aceh Barat, pada Musabaqah Tunas Ramadan (MTR) ke-XXIV tahun 2025, ia dipercaya menjadi Ketua Panitia.

Persiapan kegiatan tersebut melibatkan kontingen dari berbagai kabupaten/kota di Aceh, pada Februari 2025, ia menyampaikan bahwa persiapan teknis telah mencapai sekitar 85 persen.

Kegiatan itu kemudian berjalan dengan berbagai rangkaian, termasuk pawai ta’aruf dan perlombaan, dalam salah satu perlombaan, tim Fahmil Qur’an putri Aceh Barat berhasil meraih juara III dengan perolehan 1.275 poin, dekjol menyampaikan apresiasi atas perjuangan para peserta muda.

Ketika kegiatan berakhir, apresiasi juga disampaikan kepada berbagai pihak yang ikut bekerja, mulai dari pemerintah daerah, Forkopimda, Pramuka, masyarakat, LSM, wartawan hingga seluruh panitia, sebab baginya, sebuah keberhasilan tidak pernah lahir dari satu orang, ia lahir dari gotong royong

Pramuka Aceh Barat yang dulu sempat padam, kini telah terang dengan kehadiran sosok dek jol, ia merawat dan merangkul pengurus seperti keluarga, visi dan misi ia perjuangkan bersama, hingga akhirnya Pramuka Aceh Barat mendapatkan penghargaan Juara 2 Pramuka Tergiat se Aceh dari Kwarda Aceh, hingga Aceh Barat ditunjuk sebagai group yang mewakil Aceh tampil dipanggung Nasional, dan mendapatkan apresiasi dari Ketua Kwarnas Kak Budi Waseso.

Menyalakan keberanian berpikir

Perhatiannya kepada generasi muda juga terlihat dalam kegiatan literasi, dalam pelatihan jurnalistik bagi anggota Pramuka Aceh Barat, ia mendorong generasi muda untuk mampu mengikuti perkembangan zaman digital.

Bukan sekadar bisa menulis, Tetapi mampu membaca keadaan, Mampu berpikir kritis, Mampu memahami informasi Dan mampu beradaptasi, disinilah benang merah perjalanan Dekjol mulai terlihat.

Ia memang bergerak di banyak bidang, Bisnis, Organisasi, Pendidikan, Pramuka,Sepak bola, Sosial, Keagamaan, Kepemudaan, namun semuanya memiliki satu titik temu adalah manusia.

Ia mencoba membangun manusia dari banyak pintu, Ada anak muda yang dibina melalui sepak bola, Ada yang menemukan keberanian melalui organisasi, Ada yang belajar disiplin melalui Pramuka, Ada yang tumbuh melalui pendidikan dan Ada yang menemukan jalan melalui kewirausahaan.

Pemuda, santri dan nilai kehidupan

Pada 2025, Dekjol juga tampil sebagai Ketua Pemuda dan Santri Aceh Barat, dalam kegiatan pengajian Subuh bersama Abu Paya Pasi di Dayah Raudhatul Mubarakah, ia hadir bersama unsur pemerintah dan masyarakat.

Ia juga memberikan perhatian terhadap kegiatan keagamaan dan pembinaan generasi muda, di berbagai kesempatan, pesan yang disampaikannya memiliki nada yang hampir sama, ia aktiv dipengajian MPTT-I, Tastafi, Mudab, Mabab dan berbagai Organisasi Keagaaman yang ada di Aceh Barat

“ Anak muda harus berani berdiri di atas kaki sendiri, Harus memiliki kemampuan, Harus memiliki mental Dan harus memiliki keinginan untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Pesan tersebut terasa sangat dekat dengan kisah hidupnya sendiri, Sebab Dekjol pernah menjadi anak kampung, Pernah menjadi anak pesantren, Pernah menjadi mahasiswa perantauan, Pernah menjual pulsa kepada teman dan dosen, Pernah memiliki kios, Pernah kehilangan kios karena kemalingan, Pernah membangun usaha, Pernah gagal, Pernah mendirikan Melborn Cafe dan melihatnya hancur.

Pernah membawa mimpi rumah makan ke sebuah presentasi di Bandung Dan kemudian melihat mimpi itu berdiri di Meulaboh.

Dari kegagalan menuju rumah makan yang pernah dimimpikan

Barangkali di sinilah kisah bisnis Dekjol menjadi salah satu bagian paling menyentuh, mimpi itu tidak lahir ketika semuanya sudah tersedia.

Mimpi itu justru lahir ketika banyak hal belum dimiliki seorang anak rantau belajar menjual pulsa, Kemudian mencoba kios, Kios hilang, Mencoba lagi, Membangun Cafe, Usaha itu hancur, Namun cita-cita tidak ikut hancur, Ia tetap ingin menjadi pengusaha, Bukan hanya untuk dirinya.

Tetapi agar bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dan sekitar, mimpi yang pernah dibawa dalam sebuah presentasi akhirnya memiliki bentuk nyata, Rumah Makan Hasan Meulaboh.

Dari sana, sebuah kalimat lama tentang menjadi pengusaha dan bukan menambah angka pengangguran mendapatkan jawabannya.

Mimpi memang tidak selalu datang cepat, Kadang ia membutuhkan waktu, Kadang membutuhkan kegagalan, Kadang membutuhkan kehilangan.

Tetapi selama seseorang tidak berhenti, pintu kemungkinan tetap terbuka.

Penghargaan yang datang dari perjalanan panjang

Pada Februari 2026, perjalanan Dekjol di dunia Pramuka kembali mencatat sebuah capaian, Kwarcab Pramuka Aceh Barat meraih Tunggul Kwarcab Tergiat II se-Aceh.

Sebagai Ketua Harian, Dekjol menerima penyerahan penghargaan tersebut, pada momentum yang sama, juga berlangsung penyematan Lencana Pancawarsa I dan penyerahan bantuan kemanusiaan dari Kwartir Nasional.

Penghargaan itu tentu bukan milik satu orang, namun menjadi tanda bahwa sebuah organisasi telah bergerak dan menjalankan pembinaan dan bagi seseorang yang sejak awal percaya pada kerja bersama, mungkin penghargaan semacam itu justru memiliki makna tersendiri.

Bahwa kerja yang dilakukan bersama akhirnya meninggalkan jejak.

Membawa anak daerah melihat panggung yang lebih besar

Pada April 2026, langkah Dekjol kembali terlihat dalam sepak bola, ia hadir di Bekasi menyaksikan pertandingan EPA U-19 Championship 2026. Salah satu perhatian khususnya adalah memberikan dukungan kepada Adil, kiper muda asal Aceh Barat yang memperkuat Persiraja U-19.

Di titik itu, perjalanan Dekjol seperti kembali ke tempat asalnya, dari lapangan-lapangan kecil di daerah menuju panggung yang lebih besar, dari anak-anak yang mungkin dahulu hanya bermain untuk kesenangan, menuju pemain yang mulai merasakan kompetisi profesional, ada mimpi yang sedang dibangun Dan mimpi itu bukan hanya miliknya.

Politik, satu bagian dari perjalanan

Perjalanan Dekjol juga pernah bersentuhan dengan politik praktis, pada Desember 2023, ia diberitakan dipercaya sebagai Ketua Gerakan Nasional Prabowo-Gibran (GNPP) Aceh Barat untuk memenangkan pasangan tersebut pada Pemilu 2024, dalam pemberitaan tersebut, ia menyatakan akan menjalankan aktivitas politik dengan cara yang santun, catatan tersebut merupakan salah satu bagian dari perjalanan organisasionalnya.

Namun jika seluruh perjalanan hidupnya dilihat secara utuh, aktivitas tersebut hanyalah satu bagian dari perjalanan yang jauh lebih panjang, diluar politik, ia tetap bergerak di bidang pendidikan, kewirausahaan, kepemudaan, olahraga, Pramuka, sosial dan keagamaan.

Dari anak kampung menjadi anak rantau yang kembali Memberi

Pada akhirnya, kisah Zulkifli Andi Govi mungkin bukan tentang seberapa panjang daftar jabatan yang pernah ia pegang, bukan pula tentang berapa banyak kegiatan yang pernah ia ikuti, Kisah ini bermula jauh lebih sederhana, Seorang anak dari Panton Reu.

Menyelesaikan SD di kampung, Berangkat ke Meulaboh, Belajar di SMP Negeri 3 Meulaboh, Menjalani kehidupan pesantren di Nuurusshaddah, menyelesaikan pendidikan di MAN 1 Aceh Barat, Kemudian merantau ke Banda Aceh, Masuk Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi.

Dan sejak semester pertama, mulai belajar mencari jalan hidupnya sendiri, la menjual pulsa, la membangun kios, la kehilangan kios, la mencoba usaha, ia gagal, ia mencoba lagi, ia belajar organisasi, ia belajar memimpin la belajar membangun jaringan, la belajar memahami masyarakat Dan perlahan, anak rantau itu tumbuh menjadi seseorang yang ingin membawa pulang apa yang telah dipelajarinya.

Dari kehilangan menuju kebermanfaatan

Ada satu kalimat yang mungkin paling tepat untuk membaca perjalanan panjang itu, hidup tidak selalu mengembalikan apa yang pernah hilang akan tetapi hidup memberikan kesempatan untuk mengubah kehilangan menjadi kebermanfaatan.

Dekjol pernah merasakan pahitnya kehilangan dan sulitnya keadaan, namun ia tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, ia seperti memilih menjadikan pengalaman itu sebagai tenaga untuk terus berjalan, mungkin itulah sebabnya hari ini ia begitu dekat dengan anak-anak muda.

la memahami bahwa setiap orang membutuhkan kesempatan, seorang pemain membutuhkan kesempatan bermain, seorang pelajar membutuhkan kesempatan belajar, seorang pemuda membutuhkan kesempatan berorganisasi, seorang calon pengusaha membutuhkan kesempatan mencoba dan seseorang yang pernah gagal membutuhkan kesempatan untuk mencoba kembali.

Warisan terbesar bukan jabatan, jabatan akan berganti, Kepengurusan akan berakhir. Turnamen akan selesai, Organisasi akan berganti nama. Namun kesempatan yang pernah diberikan kepada seseorang dapat hidup jauh lebih lama

Tidak lagi karena pernah menjadi manajer sebuah tindakan, tidak lagi karena pernah menjadi pengurus Pramuka, tetapi karena pernah membantu seseorang menemukan jalan. Mungkin seorang pemain yang kelak menjadi pesepak bola profesional, mungkin seorang pelajar yang berhasil menjadi sarjana, mungkin seorang pemuda yang kemudian menjadi pengusaha, mungkin seorang anggota Pramuka yang tumbuh menjadi pemimpi Atau mungkin seseorang yang hanya pernah mendengar satu kalimat sederhana darinya “Jangan menyerah”.

Dan kalimat itu ternyata mengubah hidupnya, jalan panjang yang belum selesai, hari ini, perjalanan Zulkifli Andi Govi belum selesai.

PORA 2026 menjadi salah satu panggung berikutnya bagi sepak bola Aceh Barat, PERSABAR membawa mimpi baru bagi pemain-pemain muda, Pramuka terus bergerak, dunia kepemudaan terus berubah, dunia usaha terus berkembang dan generasi yang dahulu ia dampingi perlahan tumbuh memasuki dunianya masing-masing.

Namun satu hal tampaknya tetap sama, anak kampung dari Pante Ceureumen itu masih membawa, keyakinan yang sama, bahwa hidup akan jauh lebih berarti ketika keberhasilan, tidak berhenti pada diri sendiri.

Dari kampung, ia belajar tentang kesederhanaan, dari pesantren, ia belajar tentang nilai, dari pendidikan, ia belajar tentang masa depan, dari perantauan, ia belajar tentang kemandirian, dari bisnis, ia belajar tentang keberanian, dari kegagalan, ia belajar tentang keteguhan, dari organisasi, ia belajar tentang kepemimpinan, dari sepak bola, ia belajar tentang kerja dan semangat, dari Pramuka, ia belajar tentang pengabdian dan dari kehidupan, ia belajar bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Mungkin itulah makna terdalam perjalanan seorang Zulkifli Andi Govi, bukan sekadar menjadi seseorang akan tetapi menjadi alasan bagi orang lain untuk percaya bahwa mereka juga bisa menjadi seseorang. Karena pada akhirnya, sejarah seorang penggerak tidak hanya ditulis oleh dirinya sendiri. la ditulis oleh orang-orang yang pernah disentuh perjuangannya dan kisah anak kampung yang dahulu berangkat sebagai anak rantau dari Pante Ceureumen itu masih terus berjalan. Jalannya mungkin panjang, pernah terjal, pernah gelap, pernah membuatnya jatuh. Namun setiap kali ia kembali berdiri, ia memilih menyalakan cahaya, bukan hanya untuk dirinya akan tetapi untuk orang-orang yang berjalan di belakangnya dan mungkin, itulah cara paling sederhana untuk memahami perjalanan Dekjol.

Dari seorang anak kampung yang pernah belajar bertahan, menjadi seorang anak rantau yang belajar berdiri hingga menjadi seorang penggerak yang memilih membantu orang lain agar ikut berdiri.

*Saat tulisan ini sudutpenanews terbitkan, dek jol juga lagi menjalankan ibadah umrah yang ia dapatkan gratis dari PT. AL IKHSAN TRAVEL karena kebersamaanya dalam membersamai Tengku Habibi An Nawawi, LC ” Juara 1 Aksi Indosiar”.

Penulis Redaksi Sudutpenanews.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *