Sudutpenanews.com, Meulaboh — Puluhan tengku dayah dan santri dari berbagai pesantren di Aceh Barat menggelar aksi zikir dan doa bersama di Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh, pada Senin (16/6/2025) pukul 14.00 WIB.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri yang mengalihkan kepemilikan empat pulau dari wilayah Aceh ke Provinsi Sumatera Utara.
Kegiatan spiritual ini diinisiasi oleh sejumlah organisasi keulamaan dan dayah di Aceh Barat, yakni Majelis Mubahatsah Ulama Dayah Aceh Barat (MUDAB), Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), dan Majelis Aneuk Beut Aceh Barat (MABAB).
Koordinator aksi, Tgk. Bachtiar, yang juga menjabat sebagai anggota DPRK Aceh Barat dari Fraksi Partai Aceh, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut adalah bentuk penolakan terhadap keputusan pemerintah pusat yang dianggap merampas hak dan martabat masyarakat Aceh.
“Empat pulau itu bagian dari Aceh. Jangankan satu pulau, satu jengkal pun tanah kami tidak kami relakan diambil. Ini menyangkut harkat, martabat, dan harga diri masyarakat Aceh,” ujar Tgk. Bachtiar.
Dalam zikir dan doa yang dipimpin oleh para ulama dayah tersebut, para peserta memanjatkan doa yang di pimpin oleh ketua HUDA Aceh Barat, Tgk H Abdurrahman Lc, agar para pemimpin Aceh, termasuk Mualem (Muzakir Manaf), diberikan kekuatan dan kemampuan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Aceh di tingkat pusat.
“Kami berharap Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, tidak menyepelekan persoalan ini. Kami minta agar pemerintah pusat tidak lagi mengusik perdamaian yang sudah terjalin belasan tahun ini. Jangan lagi ada keputusan yang bisa memercikkan kesalahpahaman antara masyarakat Aceh dan pemerintah,” katanya.
Tgk. Bachtiar juga mengimbau agar pihak luar, khususnya dari Sumatera Utara, menghormati kewenangan Pemerintah Aceh terkait wilayah administratif dan investasi.
“Silakan ajukan permohonan investasi secara resmi ke Pemerintah Aceh, jangan malah mengambil pulau kami. Itu permintaan kami sebagai kader Partai Aceh dan sebagai wakil rakyat,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika tuntutan masyarakat tidak ditanggapi, aksi serupa akan terus digelar sebagai bentuk konsistensi memperjuangkan keutuhan wilayah Aceh.
Aksi zikir dan doa bersama ini berlangsung damai dan khusyuk, serta menjadi simbol perlawanan moral dan spiritual terhadap kebijakan yang dinilai merugikan Aceh.







