Simeuleu | Sudutpenanews.com – Polemik pengalihan dan penambahan rute kapal KMP Aceh hebat 1 semakin memanas dan mengundang kekhawatiran masyarakat simeulue. Suara kritik mulai terdengar lebih nyaring termasuk dari aktivis muda simeulue Alwan Samri yang tidak ragu menantang anggota DPRA Dapil 10 agar tidak terjebak dalam lingkaran makan gaji buta dan mudah di bungkam.
“Kita memilih Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) terutama di dapil 10 untuk mewakili suara rakyat di Banda Aceh, bukan untuk diam dan mengikuti arus ketika kepentingan rakyat terancam. Pandainya cuma nyolong.” Kata Alwan, Selasa (25/11/2025).
Menurut Alwan yang juga mantan ketua Majelis Permasyarakatan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah (MPM USM) , kapal ini bukan sekadar moda transportasi, melainkan tulang punggung kehidupan ekonomi dan sosial pulau yang terpisah itu.
“Setiap kali frekuensi berkurang, harga barang jadi mahal, pasien sakit sulit ke daratan, dan anak muda yang menempuh pendidikan di luar daerah simeulue, masyarakat Mudik, kesulitan berpergian. Ini masalah hidup dan mati, bukan cuma soal ekspansi rute semata.” Imbuh Alwan.
Dalam hal ini, pihaknya mendesak seluruh anggota DPRA dapil 10 untuk segera bersuara dan mengambil sikap terkait polemik kapal tersebut.
“Kami mendesak seluruh anggota DPRA dapil 10 untuk bersuara dan segera mengambil sikap untuk menanggapi polemik kapal tersebut”. ujarnya.
Alwan menegaskan bahwa DPRA Dapil 10 harus segera melakukan rapat dengan pemerintah provinsi, meminta klarifikasi skema pelayaran yang pasti, dan memastikan bahwa kepentingan Simeulue tidak dikorbankan demi kepentingan lain.
“Jangan sampai mereka hanya muncul saat pemilihan umum, lalu hilang ketika rakyat butuh bantuan. Bukankah mereka yang harus jadi dinding pelindung kita?” tanya Alwan.
Dia berharap agar aspirasi masyarakat Simeulue yang juga bagian dari daerah pemilihan dapil 10, di dengarkan dan ditindaklanjuti demi kepentingan bersama.
“Pesan untuk Wakil rakyat. Segera bangun dari tidurmu yang panjang, harapan kami suara rakyat menjadi prioritas utama sebelum kepercayaan itu punah. Sebab yang paling mahal adalah kepercayaan rakyat itu sendiri.” tutup Alwan.







