Ketika Nama Aceh Barat Tak Terdengar di Panggung MTQ XXXVIII Pidie Jaya

Aceh Barat | Sudutpenanews.com : Tidak masuknya Kabupaten Aceh Barat dalam peringkat 10 besar dalam perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXVIII di Kabupaten Pidie Jaya menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Padahal, ajang dua tahunan ini bukan hanya sekadar lomba keagamaan, tetapi juga menjadi barometer keberhasilan pembinaan syiar Islam dan kaderisasi qari-qariah di daerah.

Publik wajar mempertanyakan, bagaimana mungkin daerah dengan sejarah panjang dalam pembinaan tilawatil Qur’an justru absen dalam kompetisi tingkat provinsi? Lalu, ke mana anggaran yang selama ini dialokasikan untuk kegiatan pelatihan, pembinaan, dan persiapan MTQ oleh Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh Barat?.

Minimnya raihan prestasi bagi Kabupaten Aceh Barat di MTQ tahun ini terasa ironis bila mengingat capaian pada ajang sebelumnya. Pada MTQ ke-XXXVI di Simeulue, Aceh Barat masih mampu bertengger di posisi kesepuluh dengan raihan 10 poin. Bahkan, pada MTQ ke-XXXV, kabupaten ini sempat menempati posisi ke-12 dengan 12 poin. Artinya, meski belum berprestasi gemilang, tren keikutsertaan dan semangat pembinaan sebenarnya masih ada.

Kegagalan kali ini seakan memberi sinyal akan lemahnya manajemen pembinaan dan koordinasi antar-lembaga. Masyarakat pantas meminta kejelasan, berapa besar anggaran yang dikucurkan untuk program MTQ tahun ini, dan bagaimana pelaksanaannya di lapangan? Apakah pelatihan dan pembinaan benar-benar dilakukan? Ataukah hanya sebatas formalitas administratif di atas kertas?.

Dinas Syariat Islam semestinya tidak bersembunyi di balik alasan teknis atau administratif. Sebagai lembaga yang mengemban amanah pembinaan nilai-nilai keislaman, transparansi dan tanggung jawab publik adalah keniscayaan. Keterbukaan informasi mengenai program, anggaran, dan proses seleksi peserta bukan hanya bentuk akuntabilitas, tetapi juga wujud penghormatan terhadap aspirasi umat.

Aceh Barat tidak seharusnya kehilangan semangat dalam membina generasi Qur’ani. Kegagalan kali ini mesti dijadikan momentum evaluasi serius terhadap perencanaan, pembinaan, dan pengelolaan anggaran di sektor keagamaan. Jika tidak, absennya Aceh Barat di MTQ hanya akan menjadi simbol dari lunturnya komitmen terhadap syiar Islam.

Aceh Barat memiliki sejarah panjang dalam melahirkan generasi Qur’ani. Kehilangan suara di panggung MTQ seharusnya tidak diartikan sebagai akhir, melainkan sebagai alarm untuk membangkitkan kembali semangat yang pudar.

Karena yang paling menyedihkan bukanlah gagal meraih juara, melainkan ketika kita berhenti berjuang dan kehilangan ruh syiar yang menjadi jantung identitas Aceh itu sendiri.

Berikut daftar 10 besar hasil MTQ ke-37 Provinsi Aceh tahun 2025:

  • Kabupaten Aceh Besar – 379 poin
  • Kota Banda Aceh – 344 poin
  • Kabupaten Pidie Jaya – 262 poin
  • Kabupaten Pidie – 252 poin
  • Kabupaten Aceh Utara – 181 poin
  • Kabupaten Aceh Timur – 155 poin
  • Kabupaten Simeulue – 117 poin
  • Kota Lhokseumawe – 104 poin
  • Kabupaten Bireuen – 101 poin
  • Kabupaten Aceh Selatan – 93 poin.

Penulis : Redaksi Sudutpenanews.com

banner 728x250

Pos terkait

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *