Sudutpenanews.com | Aceh Barat : Di sejumlah gampong di Aceh Barat, jejak sejarah tidak hanya tersimpan dalam naskah atau cerita lisan, tetapi juga hidup dalam tradisi yang terus dirawat. Salah satunya adalah Khanduri Jeurat, sebuah ritual adat usai lebaran Idul Fitri setiap tahunnya yang hingga kini masih dilaksanakan secara turun-temurun, termasuk di Gampong Ranub Dong, Kecamatan Meureubo.
Khanduri Jerat ini beragam dilaksanakan di Aceh Barat usai lebaran Idul Fitri setiap tahunnya, di Ranub Dong peringatan Khanduri Jeurat biasanya dilakukan oleh warga setempat pada hari 10 Hari lebaran idul Fitri.
Siang itu, Rabu (1/4/2026), warga mulai berdatangan ke kompleks pemakaman. Sebagian membawa peralatan kebersihan, sebagian lain menenteng bahan makanan. Di tempat itulah, tradisi yang telah berakar sejak lama kembali digelar menggabungkan kerja bersama, doa, dan kenduri dalam satu rangkaian kegiatan yang sarat makna.
Sejarah Khanduri Jeurat sendiri, berdasarkan berbagai sumber dan penuturan tokoh adat Aceh, tidak terlepas dari pengaruh kuat ajaran Islam yang berpadu dengan adat lokal. Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh, ketika masyarakat mulai membangun kebiasaan berziarah kubur secara kolektif, khususnya menjelang atau setelah bulan-bulan tertentu dalam kalender Hijriah.
Dalam praktiknya, Khanduri Jeurat menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk mendoakan arwah para leluhur anggota keluarga yang telah tiada, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Tradisi ini juga sering dikaitkan dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh, di mana seluruh elemen gampong terlibat tanpa memandang latar belakang.
Di Ranub Dong, tradisi ini khanduri ini dilakukan di Jeurat Mancang. Warga tidak hanya datang berdoa, tetapi juga melakukan pembersihan dan perbaikan makam. Rumput-rumput liar dibersihkan, nisan diperbaiki, dan area sekitar ditata ulang agar tetap terjaga.
Tokoh muda Aceh Barat, M. Khasiar, menuturkan bahwa tradisi ini memiliki nilai historis sekaligus sosial yang kuat.
“Kalau kita lihat dari berbagai sumber dan cerita orang tua dulu, Khanduri Jeurat ini sudah ada sejak lama, bahkan sejak masa kerajaan di Aceh. Ini bentuk akulturasi antara adat dan syariat, yang sampai hari ini masih kita jaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberlanjutan tradisi ini sangat bergantung pada peran generasi muda. Menurutnya, keterlibatan anak-anak muda dalam setiap pelaksanaan Khanduri Jeurat menjadi tanda bahwa nilai-nilai tersebut belum pudar.
“Ini bukan sekedar kegiatan seremonial. Di sini ada nilai sejarah, ada pendidikan sosial, dan ada juga penguatan identitas kita sebagai masyarakat Aceh,” kata Khasiar.
Seiring waktu, bentuk pelaksanaan mungkin mengalami penyesuaian. Namun esensi Khanduri Jeurat tetap sama, mengenang yang telah tiada, merawat kebersamaan, dan menjaga kesinambungan adat.
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan doa bersama dan makan kenduri. Warga duduk bersisian, menikmati hidangan yang dimasak secara gotong royong sebuah simbol sederhana dari persatuan yang telah diwariskan sejak ratusan tahun silam.
Di tengah perubahan zaman, Khanduri Jeurat di Jeurat Mancang menjadi bukti bahwa tradisi tidak sekedar dikenang, tetapi juga dijalankan. Ia hidup, tumbuh, dan terus menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh Barat.







