Pembangunan Irigasi Lhok Guci dan Jejak Kapitalisme dalam Ruang Pembangunan Aceh Barat

Aceh Barat | Sudutpenanews.com : Selama beberapa tahun, saya mencermati proyek Irigasi Lhok Guci di Aceh Barat. Proyek ini bukan sekadar pekerjaan fisik mengalirkan air ke sawah, melainkan simbol harapan untuk menghidupkan lebih dari 12.700 hektare lahan yang lama tidak produktif. Sejak dibangun tahun 2004, proyek ini memperlihatkan bagaimana pembangunan di daerah sering didorong oleh logika tertentu yang jarang dibahas secara terbuka di ruang publik.

Dalam perspektif kapitalisme Adam Smith, dengan mekanisme pasar bebas dan peran “tangan tak terlihat” (invisible hand) yang mengarahkan produksi dan distribusi secara efisien, maka Irigasi Lhok Guci bukan hanya revitalisasi pertanian, tetapi juga proses fundamental pembentukan ruang ekonomi agar lebih siap menjalankan mekanisme pasar. Dalam sistem ini, infrastruktur hadir dalam dua sisi, yaitu negara menyediakan fasilitas dasar yang vital bagi masyarakat sekaligus menciptakan kondisi aktivitas ekonomi yang lebih efisien dan teratur. Irigasi Lhok Guci adalah contoh nyata negara membangun fondasi produksi pertanian agar bernilai dan terhubung dengan pasar.

Tiga hal utama yang penulis lihat telah hadir dalam revitalisasi Lhok Guci. Pertama, komoditisasi ulang agraria, yaitu sawah menganggur dihidupkan kembali sebagai bagian rantai nilai ekonomi, petani makin terlibat dalam arus produksi komersial, dan tanah berubah menjadi komoditas. Kedua, irigasi menstabilkan ruang produksi karena ketidakpastian air adalah risiko tertinggi bagi petani, maka irigasi menciptakan kestabilan agar pertanian berjalan lancar, sejalan dengan tuntutan kapitalisme pada kestabilan produksi. Ketiga, negara membangun pondasi awal mekanisme pasar lewat investasi publik, peran pemerintah pusat, hingga skema pembiayaan, sehingga pembangunan infrastruktur irigasi memberi ruang bagi pasar untuk bergerak lebih besar.

Seringkali pembangunan dinilai merugikan masyarakat bawah, namun pembangunan sesuai logika kapital tidak selalu berdampak negatif. Dari kunjungan lapangan, petani di Aceh Barat sangat antusias menunggu pasokan air normal. Jika dikelola transparan dan melibatkan petani, irigasi ini dapat meningkatkan produksi, memperkuat ekonomi desa, dan mengurangi kerentanan. Tantangannya adalah pemerataan manfaat dan pengelolaan yang terbuka, agar keuntungan tidak hanya dinikmati oleh pemilik modal besar. Melihat proyek Lhok Guci dari sudut kapitalisme bukan berarti menolak pembangunan, melainkan untuk lebih peka memahami arah dan kepentingan di baliknya karena pembangunan tidak pernah netral. Oleh karena itu, masyarakat harus mengawal agar manfaat irigasi kembali kepada mereka yang bergantung pada sawah dan aliran air.

Akhirnya, Irigasi Lhok Guci adalah peluang besar bagi Aceh Barat memperkuat sektor pertanian. Namun, peluang ini akan benar-benar terwujud bila pembangunan berjalan transparan, berpihak pada petani, dan manfaatnya meluas, karena pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memperkuat masyarakat, bukan yang melemahkan. Semoga Irigasi Lhok Guci menjadi contoh pembangunan berkelanjutan di Aceh Barat.

(Opini ini disusun berdasarkan fakta proyek Irigasi Lhok Guci dimulai sejak 2004 dengan relevansi sosial ekonomi di Aceh Barat).

Penulis : Alfi Mansyur

Mahasiswa Program Magister Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Andalas

 

banner 728x250

Pos terkait

banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *